PPG SM-3T UNP: Catatan Guru SM-3T
News Update:

Berita Terbaru:

Showing posts with label Catatan Guru SM-3T. Show all posts
Showing posts with label Catatan Guru SM-3T. Show all posts

Mansurdin, Guru SD Merangkap “Dokter” di Buloh Seuma

Written By irfandani06 on Saturday, October 12, 2013 | 3:54 PM

Gambar
Pengabdian Mansurdin (55) di Buloh Seuma nyaris tanpa batas. Selain menjadi guru SD selama 35 tahun, dia pernah melakoni profesi “dokter”. Dia bahkan pernah 10 kali tenggelam di laut saat badai menerjang boat tujuan Trumon yang ia tumpangi

                Tidak semua orang mau menghabiskan hidupnya di kampung orang nan terpencil, apalagi di daerah terisolir yang hanya dapat dijangkau dengan perahu atau boat. Tapi hal itu tidak berlaku bagi T.Mansurdin (55). Sejak tamat Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan usianya masih berbilang remaja, dia dengan senang hati menerima tugas mengajar di SD Buloh Seuma, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan. Mengabdi selama 35 tahun di daerah terpencil dan nyaris luput dari perhatian, tak membuatnya hengkang.
Pria kelahiran 1958 itu diangkat sebagai guru SD Buloh Seuma pada tahun 1978, saat usianya baru menanjak 20 tahun. Mansurdin remaja tak mengeluh ditempatkan di daerah paling terisolir itu. Sebaliknya, dia segera mengepak barang-barangnya untuk kemudian menumpang boat milik warga Buloh Seuma dan mengantarkannya kesana.
Tatkala Mansurdin baru memulai bertugas di Buloh Seuma, jangankan orang tamat SMA, anak tamatan SD saja tidak ditemukan disana. Sebab, SD baru didirikan pada tahun 1977. Oleh sebab itu, tantangan yang dihadapi Mansurdin tergolong berat, dan dia tak pernah menyerah untuk melakukan perubahan.
Sejak penugasan ke SD Buloh Seuma hingga kini menjelang pensiun, tidak pernah terlintas kata-kata pindah tugas dalam benak Mansurdin. Sebaliknya, pria yang masih terlihat tampan ini justru memilih meminang gadis Buloh Seuma guna memantapkan tugas pengabdiannnya di sana. Guna memberikan pelayanan terbaik bagi anak didiknya, ia kemudian melanjutkan pendidikan S1 pada kelas jauh Universitas Abulyatama di Tapak Tuan dan selesai pada 2001.
            “Saya menikah dengan gadis Buloh Seuma. Buloh Seuma telah menjadi tanah air saya dan berkewajiban membangunnya. Kepada anak-anak, saya selalu berpesan untuk tak terlalu berharap perubahan dari orang lain. Diri sendirilah yang sangat berperan dalam mengubah masa depan. Itulah sebabnya saya menyekolahkan anak-anak ke jenjang tinggi dengan harapan suatu saat mereka akan pulang dan melakukan perubahan,” ujar Mansurdin sambil memboncengi Tabangun Aceh pada sepeda motornya, Jumat (4/10/2013).
Pengabdian Mansurdin di Buloh Seuma nyaris tanpa batas. Walau orang-orang memanggilnya dengan kata “Pak Guru”, tapi sebenarnya dia sudah melakoni berbagai “profesi”. Baru setahun bermukim di sana, ia sudah diminta bantu oleh Camat Trumon untuk menjadi Sekretaris Desa Teungoh. “Selama 11 tahun (1979-1990) saya diminta menjadi sekdes. Saya harus menerima tawaran ini agar dapat membantu menertibkan administrasi desa,” tuturnya.
Selain itu, pada tahun-tahun pertama tinggal di Buloh Seuma, dia pernah berperan sebagai “penyuluh agama” dan mengajak masyarakat untuk melakukan perintah Allah dan meninggalkan larangannya. Terakhir, dalam keadaan terpaksa, dia harus melakoni profesi “dokter” dan saban hari melayani orang sakit.
Jadi “Dokter”
Usai membantu menertibkan administrasi desa selama 11 tahun, Mansurdin kemudian terpanggil untuk membantu mengobati penduduk Buloh Seuma. “Disini tidak ada petugas medis yang menetap. Kalau ada warga yang sakit harus menunggu kedatangan dokter yang jadwalnya tak menentu. Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, maka saya tertantang untuk belajar ilmu kedokteran dan kemudian bekerja rangkap sebagai “petugas medis” selama 5 tahun (1994-2001, red),” katanya.
Mansurdin belajar praktik medis ini dari dokter yang bertugas ke sana. Setiap kali dokter datang, dia mengajak dokter untuk inap di rumahnya dan kemudian meminta sang dokter “menurunkan” ilmu kepadanya. “Sang dokter dengan senang hati mengajari saya. Saya juga membeli alat-alat medis sederhana untuk memeriksa pasien,” kata Mansurdin sambil tersenyum.
Mengenai obat-obatan, Mansurdin menumpangi boat nelayan asal Sibolga yang sering berlabuh di pantai Buloh Seuma. Nelayan Sibolga mengantarkannya ke daratan Sibolga dan selanjutnya dia menumpangi angkutan umum menuju kota Medan untuk membeli obat-obatan dalam jumlah yang cukup untuk satu bulan “praktik”.
“Ternyata harga obat-obat itu tak terlalu mahal. Makanya saya tak sampai hati memasang tarif kepada “pasien”. Khusus kepada janda dan anak yatim saya gratiskan saja. Pekerjaan ini saya lakoni selama 5 tahun karena darurat. Saya “pensiun” sebagai petugas medis setelah berdiri Pustu pada 2001,” kenang Mansurdin.
10 Kali Tenggelam di Laut
            Banyak kenangan yang membekas dalam sejarah hidup Guru Mansurdin. Pada 2003-2005 dia pernah mengungsikan sekolah dan seluruh muridnya ke SD 2 Trumon karena dampak konflik. Selain itu, sebelum jalan ke Buloh Seuma tembus pada Maret 2013, dia sudah terbiasa menumpang boat nelayan jika ingin pergi ke kota.
“Boat ke Trumon tidak tersedia setiap waktu. Saat musim barat kami terkurung, tidak bisa keluar. Kami harus bertahan hidup dengan cara saling berbagi stok makanan yang tersedia di rumah-rumah. Pada saat-saat genting seperti itu, kami terbiasa makan nasi bubur guna penghematan,” kisahnya dibenarkan Sekdes Teungoh, Zainal.
“Warga Buloh Seuma sudah terbiasa karam bersama boat yang mereka tumpangi saat ombak besar menghantam. Saya 10 kali pernah tenggelam di lautan, dan alhamdulillahmasih selamat sampai saat ini,” ujar Mansurdin.
Kini, terhitung Maret 2013, penderitaan tenggelam di laut karena ketiadaan jalan darat tak akan terjadi lagi. Setelah 68 tahun Indonesia merdeka, kini Buloh Seuma sudah dapat dilalui melalui jalur darat walau kondisinya masih memprihatinkan. Saat hujan turun, mobil tak dapat berlalu kesana. Sepeda motor bahkan harus didorong di beberapa titik luapan air rawa.
Selain itu, jaringan listrik dan telepon sampai saat ini belum tersedia. Kondisi serba kekurangan ini tak menyurutkan semangat Mansurdin untuk bertahan dalam memperjuangkan kualitas hidup penduduk Buloh Seuma. Dia yakin, walau mungkin luput dari perhatian manusia, tapi pengabdiannya tak luput dari “catatan harian” malaikat.
Ditanya penghargaan apa saja yang pernah dia peroleh, Mansurdin menjawab singkat: “Pada tahun 1994 pernah sekali diundang menghadiri peringatan Hardikda di Banda Aceh. Setelah itu tak ada lagi. Mungkin belum ya?,” katanya penasaran. Sebuah pernyataan berprasangka baik yang menyimpan asa.
Dari pernikahannya dengan perempuan Buloh Seuma, Mansurdin dikaruniai 6 orang anak. 1).T. Zulfadli, pegawai di Aceh Selatan, 2).T. Mirwan Saputra, sedang menyelesikan S-2 IT di Unsyiah Banda Aceh dan dosen luar biasa di Universitas Serambi Mekkah, 3).T. Suara Anwar, bekerja di Puskesmas Trumon Tengah, 4).T.Jalda Utama, kuliah di Universitas Muhammadiyah Banda Aceh, 5).T.Sayuti, kuliah di Universitas Negeri Surabaya, 6).Cut Sudaryanti, santri di Labuhan Haji Aceh Selatan. 
[hasan basri m nur]
Gambar

Bukan Akhir Sebuah Pengabdian

Written By irfandani06 on Wednesday, September 25, 2013 | 5:54 AM

(Catatan Akhir Seorang Pendidik Muda di Pedalaman NTT)


Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa.

Alunan lagu Himne Guru (Pahlawan Tanpa Tanda Jasa) tersebut dinyanyikan dengan khidmat oleh seluruh siswa-siswaku. Suasana pun hening di ruang yang sederhana itu, air mata ku pun keluar deras tak terbendung. Sesekali ku kuatkan diri melihat wajah-wajah lugu yang tepat berada di hadapan, mereka pun sedang menyeka-nyeka air matanya. Tak kuat rasannya!

Hari itu senin (16/09/2013), hari terakhir aku berada di SMPN 2 Nagawutung. Tak terasa hampir setahun sudah berada di sini, Melewati hari-hari penuh suka maupun duka, kini saatnya mengucapkan sayonara.

Kepala sekolah, dewan guru dan siswa secara spontan menyiapkan acara sederhana untuk perpisahan sekaligus pelepasan bagiku. Acara yang sebenarnya membuat langkah kakiku semakin berat meninggalkan semua yang ada di sekolah ini.


Momen-momen paling emosional dalam hidup saat harus mengucapkan kata-kata perpisahan. Berat rasanya, tapi bukankah hidup harus terus berjalan. Bukankah sedari awal aku sudah tahu, aku tak lama berada di sini, hanya setahun, lalu kembali pulang!

***

Waktu berjalan dengan cepatnya, rasanya belum lama aku berada di sini. Mengabdi sebagai seorang pendidik di sekolah yang berada di pedalaman Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bermula dari mengikuti program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T), yakni suatu program pemerintah pusat dalam mewujudkan pemerataan pendidikan di Indonesia, aku “terdampar” di sebuah desa yang terkenal dengan sebutan desa Boto. Sebuah desa yang tak pernah terbesit dalam khayal, bahkan dalam mimpi terliar sekalipun.

Sebuah desa yang masyarakatnya menggantungkan hidup dengan bercocok tanam. Sebuah desa yang seluruh penduduknya beragama Katolik, sedangkan aku adalah seorang muslim yang berasal dari daerah yang terkenal fanatik dengan keislamannya, Aceh. Tapi aku diterima dengan baik, keramah-tamahan mereka membuat ku nyaman.

Hidup di tengah-tengah lingkungan non muslim aku merasa baik-baik saja. Tak pernah ada teror, intimidasi, ajakan-ajakan untuk berpindah agama atau apapun. Semuanya menghargai keberadaanku dan menganggap aku bahagian dari mereka (sebagai anggota masyarakat). Kadang membuatku berpikir, alangkah indahnya negeri ini jika semua daerah di Indonesia seperti di tanah pengabdianku ini.

Keadaan di sekolah juga sama, dalam pendidikan semuanya jadi satu. Para dewan guru dan siswa sangatwelcome dengan kedatanganku. Semuanya menyambutku dengan tangan terbuka, bahkan aku punya panggilan sayang di sini, “Pa Ris,” begitu biasa namaku disebut di lingkungan sekolah, bukti aku begitu diterima di sekolah ini.

Aku sadar, siswa-siswaku berhak mendapatkan pendidikan yang lebih layak. Harusnya tak ada perbedaan kualitas pendidikan antara Jawa, Sumatera dengan kawasan lainnya di Indonesia, jangan ada kesenjangan, itulah alasan mengapa aku “diutus” di sini.

Tapi aku bukanlah malaikat yang turun dari langit untuk memajukan pendidikan dalam waktu singkat. Aku hanyalah seorang sarjana muda yang saat pertama kali menginjakkan kaki di sini masih nol pengalaman. Aku hanya membantu sebatas kemampuanku dengan tulus ikhlas.

Tak peduli anak didikku itu seorang muslim atau nasrani, semua sama bagiku. Ya, kini aku telah berubah menjadi pribadi yang toleran. Karakter yang selama ini tak ku dapati di daerah asalku. Dahulu aku terbiasa hidup sebagai mayoritas, aku merasa agamaku adalah yang terbaik, aku seakan lupa hak orang lain yang berbeda pandangan agama denganku.

Melihat begitu baiknya perlakuan mereka (baca: non muslim) kadang membuatku malu. Keegoanku yang selalu melihat mereka dengan sebelah mata selama ini salah, mereka punya budi pekerti yang sangat mulia, mungkin lebih mulia dari orang-orang yang katanya seiman denganku.

Aku juga sadar Indonesia bukan hanya Jawa atau Sumatera, Indonesia juga bukan hanya milik agama tertentu. Indonesia adalah bangsa besar yang kaya akan keberagaman yang harusnya kita jaga bersama. Banyak pelajaran yang bisa ku bawa pulang dari perantauan selama setahun ini.

***
Masih terniang-niang canda tawa siswa-siswaku, indahnya saat kita sama-sama berdoa kepada Tuhan kita masing-masing sebelum memulai pelajaran. Teringat saat kalian mengantar buah-buahan dan sayur-sayuran ke rumahku. Teringat akan sapaan ramah kalian saat kita bertemu di luar jam sekolah. Teringat saat kalian menolongku saat ku butuh bantuan. Ya, Semuanya hanya tinggal kenangan.

Rasa sedih ini adalah manusiawi, tak peduli apa suku, agama dan ras. Bila kita sudah membaur dan ada rasa cinta di dalamnya semua menjadi satu. Satu sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan satu dalam Indonesia.

Kini, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik buat anak-anak didikku. Seperti kata-kata perpisahanku dihari itu. “Anak-anakku jadilah apa yang kalian mau, kejar cita-cita kalian. Kalian ingin  menjadi polisi maka jadilah polisi, kalian ingin menjadi guru maka jadilah guru. Tapi kalaupun kalian jadi petani, jadilah petani yang pintar, petani yang cerdas,”

Bagiku ini bukan akhir dari sebuah pengabdian, ini hanyalah awal permulaan yang manis. Perjalananku baru dimulai, masih banyak yang bisa ku lakukan untuk negeri ini walaupun bukan di sini lagi, mungkin di tempat lainnya. Terimakasih Tuhan telah menciptakan aku di negeri ini…Aku cinta negeri ini, aku cinta Indonesia!

=====

Rizki Zulfitri
Guru Penjaskes
Peserta SM-3T asal LPTK Unsyiah, Aceh penempatan Kabupaten Lembata, NTT

Petualanganku dalam SM-3T

Written By irfandani06 on Tuesday, August 27, 2013 | 11:39 AM



Terlalu sedih untuk menceritakan semua ini,…
Rasa-rasanya ingin menangis saja jika aku melihat mereka. Sudah jauh di seberang sana Hidup penuh dengan ketidakmajuan,…. Namun mereka tidak akan pernah lelah untuk mencari ilmu. Ilmu yang sulit sekali mereka dapatkan. Bukan karena ini jaman penjajahan tapi karena tidak ada semangat beberapa pendidik untuk memberi ilmu sehingga menyebabkan mereka menjadi korban. Memang semua tidak disengaja, dengan tempat yang begitu ekstrim, terisolasi adalah satu alasan utama sehingga semuanya seperti itu.
Sebut saja Horid satu dari mereka. Dia salah satu siswi SMPN 2 Ambal Satap yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah tersebut. Walaupun menyebrang sungai, jalan yang berliku panjang, dan tanjakan tidak pernah membuatnya terlambat ataupun meninggalkan sekolah. Dia ingin sekali mendapatkan ilmu disetiap langkah lelahnya menuju sekolah.
 “Selamat Pagi pak” sapanya dengan senyum khas timornya,
“pagi juga, datang deng sapa?” aku Tanya dengan penuh rasa ingin tahu
“be datang sendiri sa”
“ooo Ko lu berani datang sendiri pagi buta begini”
“ya berani lah pak supaya tepat waktu masuk sekolah pak”, dia menjawab lagi.
Mendengar perkataanya rasa-rasanya aku ingin menjadi orang pintar semuanya. Pintar dalam semua bidang studi agar aku bisa langsung mengajar mereka tanpa tunggu lagi orang yang tidak peduli dengan mereka. Aku tidak bisa membayangkan dengan lelah seperti itu, dengan disiplin waktu seperti itu mereka hanya pulang dengan tangan kosong. Dimana rasa cinta orang-orang yang punya tanggung jawab atas kepintaran mereka. Mereka terbuang dan mereka hanya bisa menikmati tanpa bisa melawan.
                Bel masuk sudah kami pukul, mereka kumpul dan berdo’a, kemudian mereka disuruh masuk di kelas masing-masing. Dengan buku dan balpoin di atas mejanya mereka menunggu para pendidik yang pastinya tak akan kunjung datang. Kadang beberapa siswa melihat dan melihat jadwal pelajaran dan berharap nama-nama di jadwal pelajaran itu hilang seperti hilangnya para pendidik mereka. Sesegera sebagian dari kami masuk ke kelas-kelas dan mengajarkan sesuai keahlian-keahlianya. Rasa-rasanya setiap hari mereka seperti makan nasi tanpa lauk dan kalaupun ada itupun sedikit, namun itu semua bisa membuat mereka bahagia dan menerima apa adanya.
                Sungguh kami merasa dihadirkan untuk menyaksikan suasana ironi seperti itu. Kadang ketika aku berkata “Sebentar lai bapa su dipulangkan”. Langsung mata mereka menjadi berkaca-kaca, serasa menyimpan pesan “jangan pernah pergi malaikat kami”. Serasa harapan mereka akan hilang dengan habisnya waktu kami disana. Aku tak pernah henti menyanyangi mereka, dengan kekurangan mereka, keluguan mereka, dan kebaikan mereka. Aku telah meletakan mereka menjadi bagian dari keluargaku juga keluarga kami. Dimana seperti halnya aku sedang bermimpi indah dan aku biarkan mereka menikmati mimpi indahku juga.
                Di tiap kesendirianku, aku selalu berharap akan ada lagi yang seperti kami, agar mampu menyambung harapan tinggi mereka, sehingga mereka setidaknya mampu berjalan diantara orang-orang yang sudah bersayap di seberang mereka.

Perempuan Muda Perkasa di Ujung Indonesia

Written By irfandani06 on Saturday, August 24, 2013 | 10:48 PM

Dengan modal tekad kuat, para guru muda ini menanamkan arti penting pendidikan di tanah Papua.


Ibu guru Erlyn Stevanie Rosalyn, mengajarkan muridnya di kelas di satu sekolah di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Saat anak paham apa yang diajarkannya membuat dia semangat mengajar. (Feri Latief)
Mesin perahu itu meraung-raung membelah gelombang di perairan laut Teluk Bintuni. Penumpang di dalamnya terlihat kelelahan di bawah terik matahari yang menyengat perairan Papua Barat. Di antara penumpang terdapat perempuan-perempuan muda berusia duapuluh tahunan.
Wajah mereka ditundukan untuk menghindar cahaya matahari langsung. Kerudung mereka melambai-lambai tertiup angin laut. Dua jam lebih mereka terombang-ambing gelombang, tapi tujuan masih jauh. Mereka hendak ke distrik Arandai tempat pelatihan bagi guru-guru muda seperti mereka.
Ya, mereka adalah guru-guru muda yang mau mengabdikan dirinya mengajar di daerah terpencil di  wilayah kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Baru enam bulan mereka mengajar di Sekolah Negeri Taroi. Asal mereka dari Jawa Timur, tepatnya kota Malang.
Selepas dari Universitas Muhammadiyah Malang mereka mendapat tawaran untuk menjadi guru di daerah terpencil. “Tawaran pertama adalah mengajar di Papua, langsung saya ambil. Kalau tawaran pertama di Kalimantan saya ambil Kalimantan”, cerita ibu guru Erlyn Stevanie Rosalyn, 23 tahun, saat ditanya bagaimana bisa mengajar di wilayah terpencil.
bintuni,papua barat,sekolahIbu guru Yeni Widyaningrum, harus melewati lautan lumpur saat laut menyurut untuk ke tempat perahu bersandar di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. (Feri Latief)
Erlyn bersama lima orang teman yang lain dari kota Malang di Jawa Timur terinspirasi oleh gerakan Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T). Informasinya mereka peroleh dari grup di jejaring sosial Facebook.
Cerita teman-teman mereka lewat jejaring sosial tentang pengalaman mengajar di berbagai pelosok Indonesia menggerakkan hati mereka untuk berperan serta di Papua.
“Sudah ada tekad dari awal, jadi langsung ikut tes waktu ada peluang menjadi guru di Papua. Ini kesempatan mengajar di luar pulau Jawa. Ikut sudah!”,  jelas Yeni Widyaningrum, 23 tahun, guru muda teman Erlyn.
Walau belum setahun penuh di tempatkan di Teluk Bintuni bicara mereka sudah berlogat Indonesia Timur. Untuk satu tahun belakang ini sedikitnya ada 50 orang guru yang direkrut untuk mengajar di berbagai distrik di kabupaten Teluk Bintuni. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Semangat mereka mengajar tak diragukan lagi. Lihat saja sore itu, mereka harus berjalan kaki ratusan meter ke tengah laut yang sedang surut untuk mencapai perahu yang akan mengantar mereka ikut pelatihan guru. Mereka tak mengeluh harus berjalan di atas lumpur yang membenamkan kaki mereka sampai ke betis. Selanjutnya harus menghadang gelombang berjam-jam selama perjalanan.
Apa rahasianya agar bisa tetap menjaga semangat mengajar di daerah yang sulit terjangkau? Selain tekad yang kuat ternyata ada hal lain, yaitu murid-murid mereka sendiri. “Senyum mereka itu tulus gitu, lho. Menjadi semangat mengajar itu juga”, jelas Yeni sambil tersenyum. Erlyn menambahkan,
bintuni,papua barat,sekolahPara ibu guru muda cepat akrab dengan murid walau belum setahun mengajar di SD Negeri Taroi, kabupaten Teluk Bintuni – Papua Barat. (Feri Latief)
”Saya mengajar IPA, ketika praktikum di kelas saat anak-anak sudah bilang 'Oooo...' , saya senang sekali! Berarti mereka paham, saya jadi semangat mengajar.”
Kehadiran mereka tak sia-sia. SD Negeri Taroi tempat mereka mengajar peringkat Ujian nasionalnya naik dari peringkat ke- 40 menjadi peringkat ke-11 dari seluruh sekolah dasar yang ada di kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Ini prestasi yang membanggakan bagi mereka.

“Begini bapak, untuk kelas enam kemarin memang kita gembleng. Kalau pagi mereka sekolah, sore mereka les dengan guru mata pelajaran masing-masing. Malamnya baruprivate di rumah. Dari situ tiap hari kita gembleng”, jelas Erlyn bersemangat.
Beberapa orangtua mereka sempat menyatakan tak setuju. “Anak saya ini pagi sudah sekolah, sore les, malam disuruh belajar lagi, kapan bantu orangtuanya?” kenang Erlyn akan ucapan orangtua murid yang protes.

“Tapi ketika anak-anaknya lulus dengan hasil memuaskan, ooo... ternyata selama ini bermanfaat”, tambah Erlyn lagi. Yang lebih membanggakan lagi salah seorang siswa mereka, Soleh, hasil Ujian Nasionalnya menempati peringkat ketiga dari seluruh siswa SD di kabupaten Teluk Bintuni. “Anak itu memang pintar”, kagum guru muda itu.

Saat ditanya sampai kapan mereka mengajar di daerah yang sulit terjangkau seperti Taroi? “Kalau kita masih diperlukan dan diperpanjang ya Insya Allah kita juga mau diperpanjang.  Kalau nanti misalnya ada tes calon penerimaan pegawai negeri sipil kita insya Allah juga mau ikut. Ikuti jalannya saja sudah!” Begitulah Yeni menjelaskan dengan logat Jawa bercampur logat Indonesia Timur.
Negeri ini akan cepat maju jika semakin banyak anak-anak muda seperti Yeni dan Erlyn yang mengajar di tempat-tempat terpencil di pelosok-pelosok. Karena kunci kemajuan sebuah bangsa adalah pendidikan. Keberanian dan semangat guru-guru muda ini semoga bisa  memberi inspirasi kaum muda yang lainnya untuk berkarya di pelosok-pelosok negeri ini.

Kita Semua Adalah Pahlawan Bagi Indonesia

Written By irfandani06 on Monday, August 19, 2013 | 7:18 PM

Kata “pahlawan” adalah sebuah kata benda. Secara etimologi kata “pahlawan” berasal dari bahasa sanskerta “phala” yang bermakna hasil atau buah. Jadi pahlawan merupakan seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat umum.

Saya adalah seorang pendidik. Sebagai seorang pendidik saya percaya dalam diri Saya mempunyai sifat kepahlawanan yang maknanya tidak jauh berbeda dengan pahlawan pendiri bangsa ini. Hanya massa dan momentumnya yang sedikit berbeda. Melalui pengabdian dan dedikasi nilai-nilai kebaikan dan knawledge berjuang untuk pendidikan Indonesia. Pada saat yang sama, disektor yang lain yang berprofesi sepertin dibidang politik, ekonomi, sosial, kesehatan atau bahkan guru anak-anak luar biasa (yang jarang mendapatkan perhatian), dan saya percaya mereka adalah pahlawan bagi Indonesia.

Saya dan Anda adalah pahlawan bagi Indonesia.

Sudah 68 tahun Indonesia merdeka, pada saat bersamaan masih banyak rakyat Indonesia yang belum merdeka baik dibidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosisal dan budaya. Kita bisa melihat di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T) kondisi pendidikannya hingga hari ini seperti apa!, kondisi ekonomi, kesehatan dan lain sebagainya seperti apa!. Indonesia masih terperangkap dalam nasionalisme sempit dan penindasan ghuzlul fikri.

Sikap confident nation of Indonesia adalah menjadi salah satu faktor penghambat makna kemerdekaan yang hakiki. Sebagai contoh dimana-mana sering kita jumpai bangsa Indonesia sendiri lebih suka dengan produk-produk asing dan gaya-gaya barat. Padahal kualitas produk dalam negeri tidak jauh berbeda atau bahkan lebih baik dan budaya-budayanya lebih berkarakter.

Oleh karenanya, jangan remeh terhadap diri sendiri. Jangan pula sepele dengan dampak yang kita bisa perbuat, lewat apa yang sedang kita kerjakan. Cukup banyak orang tidak percaya diri mereka sendiri, membawa mereka tidak pada jalan yang seharusnya mereka tempuh. Sebut saja para pelaku kriminal. Mereka tidak kurang hebat dari kita yang dapat duduk manis di gedung perkantoran. Para PMKS atau Penyandang Masalah kesejahtraan Sosial, yang sering kita cibir karena tingkah laku mereka yang hanya menadahkan tangan, apakah Anda berpikir mereka miskin akan potensi?
Saya pikir tidak!
Masih banyak lagi di indonesia yang keberadaanya mengalami disfunsi. Mereka tidak percaya diri, sepele terhadap apa yang dapat mereka lakukan dengan kebiasaan mereka. Banyak orang tidak menyadari bahwa diri mereka adalah pahlawan bagi indonesia. Apapun profesi kita “Saya, Anda dan apa yang bisa dilakukan, kerjakanlah! Biarkan sejarah akan mencatat semua proses itu. Tuhan yang maha kuasa dan Negera Indonesia menjadi saksinya”.

Sudah cukuplah penghakiman manusia. Cukuplah untuk cibiran. Cukuplah untuk keluh kesah. Pahlawan, pahlawan!
Berdoalah bagi indonesia, untuk tanah yang subur, untuk masyarakat yang makmur, sejahtra, dan sampaikanlah pada dirimu sediri, sampaikan pada orang-orang yang kita temuai. Saya, Anda adalah pahlawan bagi Indonesia. Karena setiap orang adalah pahlawan bagi indonesia.
Salam Merdeka untuk Indonesia SejahtraJ

By, Mansur Amriatul, S.Pd

(Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Semarang)

Kisah Guru SM-3T di Kalbar asal Gayo Lues

SALAM KU ARI RANTO
Oleh : Muhammad Amin*
BULAN Oktober 2012 lalu, saya dan seluruh teman-teman seperjuangan Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) angkatan ke-2 nasional dan generasi pertama untuk LPTK Unsyiah Banda Aceh berangkat menuju daerah tempat kami mengabdi tepatnya di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
Peserta SM-3T Aceh 2012 berjumlah 301 orang. Khusus kabupaten Sanggau 102 orang, dan selebihnya di daerah penempatan lain di Kabupaten Anambas Kepri, dan Kabupaten Lembata NTT. Daerah kabupaten Sanggau merupakan daerah terdepan RI karena memang langsung berbatasan dengan Negara tetangga Malaysia.
Kami diberikan kesempatan oleh Allah SWT melalui LPTK Unsyiah untuk mengabdi sebagai duta daerah dan masyarakat Aceh ke berbagai wilayah di Indonesia. Bermacam hayalan kami khususnya saya sendiri yang selama ini bertanya-tanya tentang informasi Kalimantan Barat terjawablah sudah. Kami diberangkatkan dari Banda Aceh ke Jakarta kemudian lanjut menuju Pulau Borneo (Kalimantan) tepatnya Kalimantan Barat. Masih terlintas di bayangan ketika pertama menginjakkan kaki di pulau ini. Hati masih was-was, perasaan takut, senang, dan semuanya terkumpul dengan sesak dalam pikiran. Namun, rasa takut sedikit berkurang berhubung turut mengantarkan kami yaitu Bapak Dekan FKIP Unsyiah dan Purek III Unsyiah.
Singkat cerita ketika kami mendarat di Bandara Supadio Kota Pontianak, kami sudah disambut Bis Damri untuk melanjutkan perjalanan darat menujut Kabupaten Sanggau. Akhirnya perjalanan kami lanjutkan kembali. Agak sedikit melelahkan berhubung jalan menuju kabupaten Sanggau ditempuh selama kurang lebih 8 jam dari kota Pontianak. Di tengah perjalanan kami tidak bisa terlalu banyak melihat-lihat karena sudah larut malam.
Setibanya di Kabupaten Sanggau, kami di tempatkan di mes pemda setempat. Setelah mandi dan sarapan, kami langsung menuju kantor bupati Kabupaten Sanggau untuk mengikuti pertemuan dengan pihak pemda, dinas pendidikan dan seluruh kepala sekolah se kabupaten Sanggau. Acara ini sekaligus penyerahan peserta SM-3T Aceh oleh bapak  Purek III Unsyiah kepada Pemda dan oleh pemda kami diserahkan ke dinas pendidikan dan terakhir Bapak Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sanggau menyerahkan kami kepada masing-masing kepala sekolah yang di tunjuk.Gubuk
Sesuai SK tugas dari dinas pendidikan kabupaten Sanggau, saya ditugaskan di SMP Negeri 7 Jangkang. Sekolah ini berstatus negeri dan masih satu atap. Sekolah ini berada tepat di dusun Terati, desa Terati, Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau. Desa ini masih sangat alami, belum dialiri listrik PLN, kondisi jalan tanah dan sebagian setapak. Untuk mencapai desa ini harus naik bis selama lebih kurang 4,5 jam dengan kondisi jalan yang rusak dan sebagian belum di aspal sampai ke daerah transmigrasi SP4. Sampai di SP4 dilanjutkan dengan naik sepeda motor kurang lebih 1 jam. Jalur ini tidak bisa dilalui kenderaan roda empat karena harus menyeberangi sungai dengan rakit. Wal hasil saya dan seorang rekan saya berhasil masuk ke lokasi tempat kami mengabdi SMP Negeri 7 Satu Atap Jangkang.
Sebagai tempat tinggal kami adalah gedung perpustakaan yang sekaligus merangkap kantor, karena memang masih kekurangan gedung. Untuk kamar darurat, kami gunakan ruang kepala sekolah dan untuk dapur disekat sedikit ruangan membaca perpustakaan. Beginilah kami memulai kehidupan di pulau borneo jauh dari keluarga, tanah rencong, dan khususnya tanah kelahiran saya Gayo Lues.
Hari demi hari terlewati, saya mulai menikmati pengalaman yang sangat berharga sepanjang masa tugas ini. Banyak pelajaran yang kiranya dapat saya ambil hikmah disini. Yang jelas saya merasa semakin mencintai tanah air Indonesia. Berbagai macam perbedaan agama, suku, adat, tradisi, khazanah yang semua ini adalah milik Indonesia dan kini saya rasakan sendiri.  Halnya yang saya alami saat ini, di desa Terati, Kecamatan Jangkang penduduknya merupakan masyarakat adat suku dayak yang beragama 99 % Kristen dan 1 % katholik dan 0% islam. Artinya yang beragama islam hanya kami berdua bersama rekan saya. Selama keberadaan kami di desa tersebut, tidak ada sedikitpun membicarakan perbedaan beragama. Disisi lain mereka sangat senang atas kehadiran kami di desanya, apalagi menyandang peran sebagai guru. Kami sangat dihargai dan dihormati, saya terkagum-kagum, terharu atas keramah-tamahan dan toleransi mereka.Kumpul Lebaran
Disamping menjalankan tugas sebagai pengajar, saya juga diikut sertakan dalam berbagai kegiatan di desa tersebut. Sejauh ini telah banyak hal yang telah saya rasakan selama berbaur bersama mereka. Mulai dari panitia pemilihan kepala dusun, pemilihan anggota BPD, panitia Gawai (acara adat turun temurun masyarakat dayak) “Terati Cup II”, Acara Nikah Gereja, Acara Gawai Kawin, Acara Gawai Panen dan lain sebagainya. Saya juga ikut serta sebagai salah satu pemain bola kaki klub GTS yang keluar sebagai pemenang pada turnamen gawai cup II mei 2013 lalu. Disamping itu, untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim juga dirasa agak begitu rumit. Betapa pun tidak, untuk shalat jum’at setiap minggunya kami harus keluar dari desa terati menuju SP4 yang jaraknya 1 jam perjalanan darat dengan motor. Atau kami pergi ke perkampungan orang-orang melayu yang beragama islam dengan jarak yang relative sama. Demikian juga saat menjalankan ibadah puasa mereka sangat mengerti dan paham betul akan ibadah wajib umat islam tersebut.
Ada satu realita yang saya catat dalam memory saya selama disini adalah keakraban suku dayak dengan suku melayu. Keduanya merupakan penghuni asli pulau borneo sejak dulu. Orang-orang melayu mendiami daerah pinggiran sungai besar maupun kecil. Sedangkan orang dayak mendiami daerah pedalaman. Jika mendengarkan pendapat dan cerita masyarakat, mereka bagai saudara adik dan kakak, mereka saling membatu walaupun dari segi agama mereka berbeda, melayu beragama islam sedangkan dayak beragama Kristen dan katholik. Dan jika ada orang Dayak yang masuk Islam maka sukunya akan berubah menjadi suku Melayu.Sekolah
Banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan selama berada di tempat tugas untuk menyaksikan betapa luasnya pulau Kalimantan. Diwaktu libur, saya mencoba menjajaki bumi borneo yang merupakan lintasan khatulistiwa ini. Ternyata banyak orang-orang tua kami dari aceh yang telah lama menjajaki pulau ini bahkan sudah beberapa puluh tahun yang lalu. Dari sekian banyak mereka diantaranya yang sudah saya kunjungi adalah Bapak Hamka guru di Kembayan kabupaten Sanggau asal Bener Meriah, Bapak Ibrahim asal Gayo Lues dan masih banyak lagi.
Sudah lebih kurang 10 bulan kami bertugas, Lebaran Idul Fitri 1434 H ini kami mencoba bersilaturrahmi dan dengan teman-teman SM-3T aceh di Kalimantan barat yang memang sudah lama tidak bertemu berhubung bertugas di daerah masing-masing tersebar di seluruh kabupaten sanggau. Harapan untuk berlebaran bersama keluarga dan sahabat di aceh harus kami urungkan. Sembari mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid kami ucapkan minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir dan bathin. Khususnya untuk warga Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Tengah dan Bener Meriah yang baru ditimpa bencana gempa, kami dari rantau hanya bisa berdoa dan berharap Gayo bisa bangkit kembali.
* Guru SM-3T Aceh 2012 (generasi II) di SMP Negeri 7 Jangkang (SATA), Kabupaten Sangau Kalimantan Barat.

Ratep Meusekat

Written By irfandani06 on Saturday, July 13, 2013 | 2:13 PM

[Foto Muhammad Darmansyah]
 Tarian "Ratep Meusekat"

SM3T Aceh-Lembata pada saat pembukaan Aksi sosial SM-3T ACEH LEMBATA.

AKU BELAJAR BUKAN MENGAJAR

Written By irfandani06 on Wednesday, June 5, 2013 | 8:36 AM

FOTO Darmansyah Hasbi.

Menjadi Guru melalui Sarjana Mendidik didaerah Terdepan Terluar dan Tertinggal (SM-3T) terbukti memperkaya wawasan bagiku, yaitu dari tidak tahu menjadi tahu. Menjadi Guru SM-3T tidak sekadar berkecimpung dengan sekolah dan pendidikan. Akupun belajar memahami konteks kehidupan masyarakat, keseharian dan budaya mereka. Belajar untuk mengenal akar rumput Indonesia dan belajar memaknai Nusantara.
Rasa-rasanya baru bulan lalu aku dan teman-teman SM-3T diberangkatkan ke tempat penugasan, ternyata waktu berlalu dengan cepat tak terasa sudah masuk bulan ke 9 kami bertugas di desa masing-masing. Banyak pengalaman yang aku alami selama di Lembata. Senang, sedih, marah, kesal, kecewa, iba, semua perasaan sepertinya pernah menemani keseharian aku selama di Lembata.
SM-3T telah membesarkan aku, memberikan kesempatan untuk belajar lebih banyak, belajar untuk mencintai dan mengerti Nusantara ini. Lembata merupakan laboratorium tempat aku bereksprimen banyak hal mulai dari pendidikan, sosial, politik, agama  dan ekonomi. Disini banyak pelajaran yang didapat. Setiap saat di tahun ini sangat berharga, rugi sekali kalau setiap saat itu dibiarkan berlalu begitu saja.
“Bagun tidur sudah bulan September” itu gambaran bahwa September semakin dekat. Bulan penuh kecewa, bahagia dan rindu. September kami akan dijemput, berakhirnya tugas dimana PPG sudah menanti.  September kami akan meninggalkan anak-anak terbaik kami, anak-anak yang tidak akan pernah kami lihat lagi lucu dan lugu mereka. Meninggalkan alam yang telah membesarkan kami, orang tua yang telah merawat kami dan September pula kami akan bertemu dengan orang-orang yang rindunya kami pendam yang setianya kami jaga. :D
Ketika semua orang berdiri didepan kelas untuk mengajar anak-anak terbaiknya, berdiri angkuh seolah tau segalanaya paham semuanya, merasa anak-anak yang mereka ajar itu orang bodoh yang harus mereka beri pelajaran dengan metode klasik menakutkan. Aku justru belajar dari mereka, dari anak-anak yang mereka katakan bodoh itu, belajar untuk mengajar, belajar bagaimana sulitnya untuk mengenyam pendidikan, belajar menghargai guru, belajar menghargai sebuah buku sekalipun sudah kusam tak layak pakai, belajar untuk tidak menyontek, belajar bersyukur atas pemberian Tuhan dan belajar menjalani hidup tanpa cela dan penghujatan.
Kalau boleh jujur, tidak banyak yang telah dan bisa aku berika kepada masyarakat setempat, kepada orang-orang disekitarku, tapi satu hal yang selalu aku ingat sebuah doktrin dari seorang Ayah terbaik didunia “Kalau tidak mampu memecahkan masalah maka jangan menjadi biang masalah” sebuah rambu-rambu yang harus selalu aku jaga. Melaksanakan semua yang diintruksikan oleh induk tugas ini yaitu LPTK dan Kemendikbud. Melaksanakan tugas disekolah dan juga sosial di masyarakat.  Melaksanakan  program-program kreatif yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, mencari bibit-bibit unggul dan menggali mutiara-mutiara tersembunyi yang tersebar di pelosok negri. Mutiara yang akan mengisi Indonesia emas nanti. Ingat, tugas guru tidak hanya disekolah tapi juga diluar sekolah.
Masi ada sedikit waktu masi ada tiga bulan waktu tersisa, tiga bulan inilah yang harus aku manfaatkan sedemikian rupa untuk berbuat lebih banyak, berbuat untuk orang lain sehinga manfaatnya dapat aku rasakan sendiri. Aku sangat takut, kalau suatu saat nanti seseorang akan bertanya “apa yang telah kamu perbuat selama 1 tahun di Lembata?” pertanyaan yang pasti akan aku dengar tidak disini maka dikampung halaman. Yang pastinya wartawan dadakan akan bermunculan pasca kami pulang, orang-orang yang sedang menanti cerita dan informasi dari kami. Jawaban “mengajar saja” bukanlah jawaban yang memuaskan. Pertanyaan sederhana tapi sangat mematikan.
*************************************************
Lembata,  disinilah aku menghabiskan hari-hari dalam hidupku, hari-hari yang penuh pertualangan dan tantangan, hari-hari dengan nuansa romantisme tak bertepuk sebelah tangan. Bagaimana tidak, pada kenyataannya disini aku lebih banyak belajar kepada masyarakat. Belajar langsung kepada ahlinya. Belajar apa itu ketulusan, belajar apa itu keterbukaan, belajar apa itu janji dan tanggung jawab, belajar berdedikasi dalam pekerjaan, belajar apa itu kepercayaan, belajar apa itu cinta dan kasih sayang.
I Love Aceh, I Love Lembata.

**** 
25 Mei 2013. Lewoleba pagi, sambil minum kopi.

M. Darmansyah Hasbi.

Catatan Pendidik di Daerah 3T

Written By irfandani06 on Friday, May 31, 2013 | 11:15 AM


Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T). Itulah nama program pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional melalui Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) yang menugaskan sarjana-sarjana muda di daerah 3T. Ketika kita mendengar namanya saja daerah 3T, terdepan, terluar dan tertinggal maka tantangan dan hambatanpun kompleks adanya di daerah yang tergolong 3T. SM-3T yang seharusnya tantangan yang di alami adalah masalah pendidikan saja, namun masalah kemasyarakatan-pun seakan tidak mau ketinggalan dari masalah kependidikan sehingga komplekslah permasalahan di daerah yang tergolong 3T.
Diantara tajamnya perbedaan kultur dan agama, SM-3T dengan sungguh-sungguh menjalankan pendidikan di tempatnya bertugas dengan berbagai kekurangan sarana pendidikan yang ada. Sebagaimana kita ketahui dalam teori penyimpangan sosial salah satunya adalah teori konflik budaya yang merupakan bagian dari teori konflik mengatakan bahwa: “Bila dalam masyarakat terdapat beberapa kebudayaan khusus (etnik, agama, suku bangsa, kedaerahan dan kelas sosial) maka akan sulit untuk menemukan adanya kesepakatan nilai”. Intinya adalah para pendatang dengan budaya yang dibawanya dari daerah asalnya akan di anggap menyimpang dari kebudayaan asli di daerah lain. Hal inilah yang melengkapi tantangan para peserta SM-3T yang memang bertugas mendidik di daerah 3T.
Daerah 3T disamping terbelakang dari persoalan pendidikan, daerah 3T juga masyarakatnya merupakan orang-orang yang sangat sulit menerima masukan dari luar, justru para pendatang dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaan yang ada pada daerah mereka. Hal ini kita memang tidak bisa mengelak karena memang para ahli telah menjelaskan teorinya. Kebudayaan dominan akan dikalahkan dengan kebudayaan  para pendatang yang hanya segelintir orang sehingga kemudian di Marginal-kan. Seperti hal yang saya alami di tempat saya bertugas sebagai sarjana mendidik di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (SM-3T), tidak luput dari problema diatas.
Di Buraga Desa Tribur Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor yang merupakan salah satu daerah sasaran peserta SM-3T LPTK Undiksha Singaraja-Bali. Semua yang dilakukan dalam lingkungan Masyarakat hampir diluar budaya, sehingga semuanya diklaim tidak benar. Diklaim bahwa yang kita lakukan tidak baik. Dengan begitu maka dengan sendirinya kita di anggap sebagai pelaku penyimpang.
Dianggap pelit dan kikir oleh Masyarakat sudah dirasakan. Jalan-jalan ke tempat rekreasi dengan teman-teman guru juga di anggap tidak baik. Diam di rumah juga di anggap salah karena tidak pernah bertamu kerumah tetangga. Ironisnya, mereka yang mengatakan seperti itu tidak pernah muncul juga di rumah kediaman saya sebagai pendatang.  Dan masih banyak persoalan lain yang di alami oleh  peserta SM-3T.
Akumulasi dari semua persoalan yang disebutkan di atas, sehingga sayapun bisa menangis. Meskipun pada akhirnya saya sendiri heran, orang yang seperti saya bisa menangis. Namun disisi lain saya harus berterima kasih kepada Alor karena telah bisa membuat saya menangis. Itulah persoalan yang saya hadapi dalam kesendirian di daerah 3T yang mungkin menyebabkan tidak betah lagi karena hampir tidak ada lagi yang membuat saya betah. Namun intinya adalah kembali kepada diri kita sendiri. Waktu satu tahun bisa dirasakan begitu cepat, namun juga bisa dirasakan sangat lambat.

Pendidikan untuk Peradaban

Written By irfandani06 on Thursday, May 30, 2013 | 3:16 PM

Entahlah, tiba-tiba saja melihat banyak artikel dan facebook dari Geugeut Zaludio Anafi di https://www.facebook.com/geugeut.dio?fref=ts dan Winda Yulia dihttps://www.facebook.com/winda.yulia.31?fref=ts. Geugeut kabarnya adalah lulusan terbaik FPOK UPI pada angkatannya dan begitu pula dengan Winda Yulia juga lulusan Pendidikan Matematika terbaik pada angkatannya. Ada banyak hal mengharukan dan membangkitkan semangat kita sebagai manusia. Ya, mereka wafat karena terseret meluapnya sungai di Aceh Timur, perahu mereka terbalik pada 26 November 2012.
Winda tidak mengikuti seremonial wisuda untuk mengikuti program Sarjana Mendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (SM3T) seperti yang ditulis temannya dihttp://wijayantianisa.blogspot.com/2012/10/wisuda-antara-aku-kita-dan-dia_5.html?spref=fb
Setelah dinyatakan lulus pada ujian sidang pada tanggal 22 Juni 2012 dan Agustus 2012, melakukan revisi ini itu, melengkapi berbagai persyaratan, akhirnya tibalah waktu yang kami tunggu sebagai lulusan dari Jurusan Pendidikan Matematika UPI. Ada sepenggal cerita tentang wisuda aku, kita dan dia. Aku yang telah menunggu saat-saat wisuda sejak menginjakkan kampus empat tahun yang lalu kini telah mempersiapkan semuanya, saat wisuda tanggal 17 Oktober nanti kehamilanku tepat menginjak sembilan bulan, artinya di wisuda bersama utun dalam rahimku. Rasanya, hmmmmm,..sungguh tidak terpikir sebelumnya.
Orang tua dan suami menyambut gembira momen ini. Bahkan, suamiku sengaja datang dari Bengkulu untuk bisa menghadiri acara tersebut. Teman-teman sekelasku tak kalah heboh menyambut momen bahagia itu, sibuk mempersiapkan baju bahkan bagi para akhwat sudah memikirkan di salon mana mereka akan didandani. Orangtua dan kerabat sudah dipersiapkan untuk diajak dalam momen penting ini. Panitia tak kalah gencar menyiapkan semuanya agar acara besar ini bisa berjalan dengan sempurna.
Di sela hiruk pikuk persiapanku, teman-teman dan panitia. Ada dia disana yang memilih untuk tidak ikut wisuda. Dia adalah temanku yang meraih predikat terbaik satu angkatan kami. Dia yang sederhana dan sangat baik sebagai teman. Dia memilih untuk tidak datang karena sebuah alasan yang membuat hatiku terenyuh. Dia pergi ke Aceh Timur untuk program SM3T. Sebuah program yang mengharuskannya pergi ke daerah terdepan, terluar dan tertinggal. Bergabung bersama relawan yang lain demi memajukan pendidikan anak bangsa yang bertempat tinggal di lokasi terpencil. Dia adalah Winda Yulia, seorang teman, sahabat, dan keluarga yang menurutku memiliki hati yang begitu mulia, baginya hingar binger wisuda tak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan pendidikan anak-anak di daerah tertinggal itu. Sebuah tamparan kuat bagiku yang bahkan belum merencanakan apa-apa untuk hari-hari seusai wisuda. Jika Winda bisa memiliki keberanian untuk memilih jalan kebaikan daripada egonya untuk bersenang-senang dalam kegiatan seremonial seperti acara wisuda, lalu apa yang bisa aku lakukan?. Terlalu berlebihan jika aku memilih untuk tidak ikut wisuda hanya karena tidak mau menghambur-hamburkan waktu, tenaga dan uang untuk hal yang sifatnya hanya seremonial. Tapi setidaknya, apa yang dilakukan Winda menyadarkanku untuk berbuat sesuatu yang berguna sebagai seorang sarjana.
Lalu ada surat dari Winda Yulia kepada temannya agar lebih bersemangat seperti yang di tulis di https://www.facebook.com/notes/isnaini-mahuda/surat-buat-isna-dari-winda-yulia/525771924099499
Saat itu,,aku sedang kehilangan stok semangatku..Seperti biasa,,kutulis status di akun fesbuk tentang kondisiku yg sedang sangat amat tak bersemangat itu,,dan aku berharap da orang lain yang akan menyumbang semangatnya yang berlebih kepadaku..Tiba-tiba,,salah seorang teman satu angkatanku,,mengepost sebuah koment di statusku itu.Lewat komentnya itu dia bermaksud untuk memberikan sebuah surat yang nantinya akan membuat semangatku bangkit.Kuberikan alamat emailku padanya dan ia pun mengirimkan sebuah surat yang ia beri judul “SURAT BUAT ISNA”.Ini adalah surat yang kuterima darinya..



Surat baru, kabar baru, hehe…
Semua yang terjadi di sini adalah cambukanku dalam berpikir. Semua kesempatan telah aku dapatkan dan telah aku jalani sampai hari ini. Di sini, di Desa Melidi, tak banyak kesempatan yang masyarakat dapatkan. Desa ini dikelilingi sungai nan lebar dan hutan bertebing batu yang tinggi. Mereka tak bebas keluar dari desa ini karena alasan tersebut. Jauh dari kata sejahtera, namun kekerabatan yang tinggi masih terjaga di sini. Kehidupan di sini jauh sekali dari hingar bingar, kemewahan, dan semangat perubahan. Namun, yang ku tau di sini sangat kental dengan kekeluargaan, gotong royong, dan saling membantu.

Kawan, ketika aku datang ke sini, hatiku ingin teriak keras namun tersekat malu. Oktober, setelah 3 bulan KBM berjalan, semua kelas hanya sampai pada BAB 1 untuk semua pelajaran, dan itupun hanya sebatas catatan saja. Mereka belum pernah mendapat penjelasan dari apa yang mereka tulis. Mereka hanya diminta mencatat materi dari buku, tepatnya menyalin dari buku. Tak heran, karena sebelum aku datang hanya ada 1 guru yang mengajar untuk 3 kelas (kelas VII, VIII, dan IX) untuk semua pelajaran. Hatiku menangis tak bisa tertahan, ketika aku coba menjelaskan apa yang mereka tulis, semenarik apa yang mereka tulis. Senyum, tawa, dan canda yang asing bagi mereka aku hadirkan dalam kelas. Sungguh pertama kali aku rasakan pengalaman ini sebagai seorang guru. Mereka begitu memperhatikan apa yang aku sampaikan, walau aku yakin apa yang aku sampaikan tidak semuanya mereka pahami.

Ada gerakan hati yang begitu besar setiap aku ingin bertemu mereka, tak penting nilai berapa yang mereka dapat. Hanya semangat yang begitu besar, keinginan yang tinggi untuk belajar, dan semangat mengenal hal-hal baru yang nampak dalam setiap pertemuan dengan mereka di dalam kelas. Kawan, ku minta doamu, aku ingin betah di sini, dengan keadaan yang sangat sangat sangat minim, aku dapat bertahan dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak yang merindukan ilmu.
Sekali lagi aku hanya bisa bertutur padamu, aku tak menuntutmu untuk membaca dan apapun itu. Aku hanya berharap hati ku kembali sedikit menyediakan ruang kosong untuk diisi dengan cerita yang baru.

Jumat, 26 oktober 2012.


Ya,,begitu isi suratnya,,Dia cuma bilang padaku,,”gak boleh nangis ya bacanya”…Dan ini balasan untuk suratnya tersebut:



semangat winda..
mereka sangat membutuhkanmu orang-orang sepertimu,,
kehadiranmu akan memberikan secercah harapan tuk masa depan mereka yang lebih baik..
kau beruntung bisa mendapatkan pengalaman berharga dalam hidupmu,,berjuang demi putra/i generasi penerus bangsa ini,,mendidik dengan hati,,mengabdi untuk tumpah darahmu,,indonesia..
aku bangga denganmu,,ketika kau punya sejuta kesempatan untuk bisa mengajar di sekolah2 yang “high quality” sekalipun namun kau lebih memilih mereka,,iya..mereka yg amat sangat membutuhkan didikanmu di daerah pinggiran sana itu..aku salut padamu..
Terimakasih sudah mentrasfer semangatmu yg besar itu kepadaku,,meskipun aku belum bisa mengabdi dan berbuat banyak untuk bangsa dan negaraku,,tapi mengenalmu sudah mampu membuka matahatiku tentang bagaimana menjalani hidup itu yang sebenarnya. 
Oiya,,jangan pernah berhenti untuk menularkan semangatmu yang membara itu untuk anak didikmu jga ya..Salam untuk mereka,,anak-anak didikmu yang hebat itu.
Aku berharap, aku masih bisa menerima surat-surat berikutnya darimu, Win..Tapi mungkin ini adalah surat pertama dan terakhir yang aku terima..Kau sungguh luar biasa,,kawan..semangatmu selalu berhasil kau tularkan untuk sekitarmu..Namun,,kau sudah nyaman di sana,,di dalam syurga-Nya..Bersama para syuhada2 lainnya..  

Selamat jalan Winda Yulia..Kau Pahlawan Pendidikan,,Pejuang Peradaban..

Winda ini kalau saya baca di facebook-nya juga pernah masuk 50 orang Olimpiade Matematika Nasional. Benar-benar semangatnya Itu. Semoga ada tempat indah di sisi Tuhan untuk mereka berdua. Aamiin.

Pendidikan untuk Peradaban…….


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org