Kisah Guru SM-3T di Kalbar asal Gayo Lues - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Kisah Guru SM-3T di Kalbar asal Gayo Lues

Kisah Guru SM-3T di Kalbar asal Gayo Lues

Written By Irfan Dani on Monday, August 19, 2013 | 7:11 PM

SALAM KU ARI RANTO
Oleh : Muhammad Amin*
BULAN Oktober 2012 lalu, saya dan seluruh teman-teman seperjuangan Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) angkatan ke-2 nasional dan generasi pertama untuk LPTK Unsyiah Banda Aceh berangkat menuju daerah tempat kami mengabdi tepatnya di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
Peserta SM-3T Aceh 2012 berjumlah 301 orang. Khusus kabupaten Sanggau 102 orang, dan selebihnya di daerah penempatan lain di Kabupaten Anambas Kepri, dan Kabupaten Lembata NTT. Daerah kabupaten Sanggau merupakan daerah terdepan RI karena memang langsung berbatasan dengan Negara tetangga Malaysia.
Kami diberikan kesempatan oleh Allah SWT melalui LPTK Unsyiah untuk mengabdi sebagai duta daerah dan masyarakat Aceh ke berbagai wilayah di Indonesia. Bermacam hayalan kami khususnya saya sendiri yang selama ini bertanya-tanya tentang informasi Kalimantan Barat terjawablah sudah. Kami diberangkatkan dari Banda Aceh ke Jakarta kemudian lanjut menuju Pulau Borneo (Kalimantan) tepatnya Kalimantan Barat. Masih terlintas di bayangan ketika pertama menginjakkan kaki di pulau ini. Hati masih was-was, perasaan takut, senang, dan semuanya terkumpul dengan sesak dalam pikiran. Namun, rasa takut sedikit berkurang berhubung turut mengantarkan kami yaitu Bapak Dekan FKIP Unsyiah dan Purek III Unsyiah.
Singkat cerita ketika kami mendarat di Bandara Supadio Kota Pontianak, kami sudah disambut Bis Damri untuk melanjutkan perjalanan darat menujut Kabupaten Sanggau. Akhirnya perjalanan kami lanjutkan kembali. Agak sedikit melelahkan berhubung jalan menuju kabupaten Sanggau ditempuh selama kurang lebih 8 jam dari kota Pontianak. Di tengah perjalanan kami tidak bisa terlalu banyak melihat-lihat karena sudah larut malam.
Setibanya di Kabupaten Sanggau, kami di tempatkan di mes pemda setempat. Setelah mandi dan sarapan, kami langsung menuju kantor bupati Kabupaten Sanggau untuk mengikuti pertemuan dengan pihak pemda, dinas pendidikan dan seluruh kepala sekolah se kabupaten Sanggau. Acara ini sekaligus penyerahan peserta SM-3T Aceh oleh bapak  Purek III Unsyiah kepada Pemda dan oleh pemda kami diserahkan ke dinas pendidikan dan terakhir Bapak Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sanggau menyerahkan kami kepada masing-masing kepala sekolah yang di tunjuk.Gubuk
Sesuai SK tugas dari dinas pendidikan kabupaten Sanggau, saya ditugaskan di SMP Negeri 7 Jangkang. Sekolah ini berstatus negeri dan masih satu atap. Sekolah ini berada tepat di dusun Terati, desa Terati, Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau. Desa ini masih sangat alami, belum dialiri listrik PLN, kondisi jalan tanah dan sebagian setapak. Untuk mencapai desa ini harus naik bis selama lebih kurang 4,5 jam dengan kondisi jalan yang rusak dan sebagian belum di aspal sampai ke daerah transmigrasi SP4. Sampai di SP4 dilanjutkan dengan naik sepeda motor kurang lebih 1 jam. Jalur ini tidak bisa dilalui kenderaan roda empat karena harus menyeberangi sungai dengan rakit. Wal hasil saya dan seorang rekan saya berhasil masuk ke lokasi tempat kami mengabdi SMP Negeri 7 Satu Atap Jangkang.
Sebagai tempat tinggal kami adalah gedung perpustakaan yang sekaligus merangkap kantor, karena memang masih kekurangan gedung. Untuk kamar darurat, kami gunakan ruang kepala sekolah dan untuk dapur disekat sedikit ruangan membaca perpustakaan. Beginilah kami memulai kehidupan di pulau borneo jauh dari keluarga, tanah rencong, dan khususnya tanah kelahiran saya Gayo Lues.
Hari demi hari terlewati, saya mulai menikmati pengalaman yang sangat berharga sepanjang masa tugas ini. Banyak pelajaran yang kiranya dapat saya ambil hikmah disini. Yang jelas saya merasa semakin mencintai tanah air Indonesia. Berbagai macam perbedaan agama, suku, adat, tradisi, khazanah yang semua ini adalah milik Indonesia dan kini saya rasakan sendiri.  Halnya yang saya alami saat ini, di desa Terati, Kecamatan Jangkang penduduknya merupakan masyarakat adat suku dayak yang beragama 99 % Kristen dan 1 % katholik dan 0% islam. Artinya yang beragama islam hanya kami berdua bersama rekan saya. Selama keberadaan kami di desa tersebut, tidak ada sedikitpun membicarakan perbedaan beragama. Disisi lain mereka sangat senang atas kehadiran kami di desanya, apalagi menyandang peran sebagai guru. Kami sangat dihargai dan dihormati, saya terkagum-kagum, terharu atas keramah-tamahan dan toleransi mereka.Kumpul Lebaran
Disamping menjalankan tugas sebagai pengajar, saya juga diikut sertakan dalam berbagai kegiatan di desa tersebut. Sejauh ini telah banyak hal yang telah saya rasakan selama berbaur bersama mereka. Mulai dari panitia pemilihan kepala dusun, pemilihan anggota BPD, panitia Gawai (acara adat turun temurun masyarakat dayak) “Terati Cup II”, Acara Nikah Gereja, Acara Gawai Kawin, Acara Gawai Panen dan lain sebagainya. Saya juga ikut serta sebagai salah satu pemain bola kaki klub GTS yang keluar sebagai pemenang pada turnamen gawai cup II mei 2013 lalu. Disamping itu, untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim juga dirasa agak begitu rumit. Betapa pun tidak, untuk shalat jum’at setiap minggunya kami harus keluar dari desa terati menuju SP4 yang jaraknya 1 jam perjalanan darat dengan motor. Atau kami pergi ke perkampungan orang-orang melayu yang beragama islam dengan jarak yang relative sama. Demikian juga saat menjalankan ibadah puasa mereka sangat mengerti dan paham betul akan ibadah wajib umat islam tersebut.
Ada satu realita yang saya catat dalam memory saya selama disini adalah keakraban suku dayak dengan suku melayu. Keduanya merupakan penghuni asli pulau borneo sejak dulu. Orang-orang melayu mendiami daerah pinggiran sungai besar maupun kecil. Sedangkan orang dayak mendiami daerah pedalaman. Jika mendengarkan pendapat dan cerita masyarakat, mereka bagai saudara adik dan kakak, mereka saling membatu walaupun dari segi agama mereka berbeda, melayu beragama islam sedangkan dayak beragama Kristen dan katholik. Dan jika ada orang Dayak yang masuk Islam maka sukunya akan berubah menjadi suku Melayu.Sekolah
Banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan selama berada di tempat tugas untuk menyaksikan betapa luasnya pulau Kalimantan. Diwaktu libur, saya mencoba menjajaki bumi borneo yang merupakan lintasan khatulistiwa ini. Ternyata banyak orang-orang tua kami dari aceh yang telah lama menjajaki pulau ini bahkan sudah beberapa puluh tahun yang lalu. Dari sekian banyak mereka diantaranya yang sudah saya kunjungi adalah Bapak Hamka guru di Kembayan kabupaten Sanggau asal Bener Meriah, Bapak Ibrahim asal Gayo Lues dan masih banyak lagi.
Sudah lebih kurang 10 bulan kami bertugas, Lebaran Idul Fitri 1434 H ini kami mencoba bersilaturrahmi dan dengan teman-teman SM-3T aceh di Kalimantan barat yang memang sudah lama tidak bertemu berhubung bertugas di daerah masing-masing tersebar di seluruh kabupaten sanggau. Harapan untuk berlebaran bersama keluarga dan sahabat di aceh harus kami urungkan. Sembari mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid kami ucapkan minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir dan bathin. Khususnya untuk warga Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Tengah dan Bener Meriah yang baru ditimpa bencana gempa, kami dari rantau hanya bisa berdoa dan berharap Gayo bisa bangkit kembali.
* Guru SM-3T Aceh 2012 (generasi II) di SMP Negeri 7 Jangkang (SATA), Kabupaten Sangau Kalimantan Barat.

Share this article :

2 comments:

  1. Inspiratif sekali..
    Sya ad kenalan dgn 2 guru sm3t di kab. Sanggau, yaitu bg irvan & bg fajri yg ad d'dlm fto diatas.
    Semoga kalbar khususny kab. Sanggau selaku terkenang di benak rekan2 guru sm3t, yg pd hri ini sdang dlm perjalanan menuju aceh. Semoga selamat sampai tujuan dan selalu dlm perlindungan Allah Swt.. amin
    Smpaikan slam sya kpd bg irvan & fajri.

    ReplyDelete


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org