Catatan Pendidik di Daerah 3T - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Catatan Pendidik di Daerah 3T

Catatan Pendidik di Daerah 3T

Written By Irfan Dani on Friday, May 31, 2013 | 11:15 AM


Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T). Itulah nama program pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional melalui Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) yang menugaskan sarjana-sarjana muda di daerah 3T. Ketika kita mendengar namanya saja daerah 3T, terdepan, terluar dan tertinggal maka tantangan dan hambatanpun kompleks adanya di daerah yang tergolong 3T. SM-3T yang seharusnya tantangan yang di alami adalah masalah pendidikan saja, namun masalah kemasyarakatan-pun seakan tidak mau ketinggalan dari masalah kependidikan sehingga komplekslah permasalahan di daerah yang tergolong 3T.
Diantara tajamnya perbedaan kultur dan agama, SM-3T dengan sungguh-sungguh menjalankan pendidikan di tempatnya bertugas dengan berbagai kekurangan sarana pendidikan yang ada. Sebagaimana kita ketahui dalam teori penyimpangan sosial salah satunya adalah teori konflik budaya yang merupakan bagian dari teori konflik mengatakan bahwa: “Bila dalam masyarakat terdapat beberapa kebudayaan khusus (etnik, agama, suku bangsa, kedaerahan dan kelas sosial) maka akan sulit untuk menemukan adanya kesepakatan nilai”. Intinya adalah para pendatang dengan budaya yang dibawanya dari daerah asalnya akan di anggap menyimpang dari kebudayaan asli di daerah lain. Hal inilah yang melengkapi tantangan para peserta SM-3T yang memang bertugas mendidik di daerah 3T.
Daerah 3T disamping terbelakang dari persoalan pendidikan, daerah 3T juga masyarakatnya merupakan orang-orang yang sangat sulit menerima masukan dari luar, justru para pendatang dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaan yang ada pada daerah mereka. Hal ini kita memang tidak bisa mengelak karena memang para ahli telah menjelaskan teorinya. Kebudayaan dominan akan dikalahkan dengan kebudayaan  para pendatang yang hanya segelintir orang sehingga kemudian di Marginal-kan. Seperti hal yang saya alami di tempat saya bertugas sebagai sarjana mendidik di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (SM-3T), tidak luput dari problema diatas.
Di Buraga Desa Tribur Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor yang merupakan salah satu daerah sasaran peserta SM-3T LPTK Undiksha Singaraja-Bali. Semua yang dilakukan dalam lingkungan Masyarakat hampir diluar budaya, sehingga semuanya diklaim tidak benar. Diklaim bahwa yang kita lakukan tidak baik. Dengan begitu maka dengan sendirinya kita di anggap sebagai pelaku penyimpang.
Dianggap pelit dan kikir oleh Masyarakat sudah dirasakan. Jalan-jalan ke tempat rekreasi dengan teman-teman guru juga di anggap tidak baik. Diam di rumah juga di anggap salah karena tidak pernah bertamu kerumah tetangga. Ironisnya, mereka yang mengatakan seperti itu tidak pernah muncul juga di rumah kediaman saya sebagai pendatang.  Dan masih banyak persoalan lain yang di alami oleh  peserta SM-3T.
Akumulasi dari semua persoalan yang disebutkan di atas, sehingga sayapun bisa menangis. Meskipun pada akhirnya saya sendiri heran, orang yang seperti saya bisa menangis. Namun disisi lain saya harus berterima kasih kepada Alor karena telah bisa membuat saya menangis. Itulah persoalan yang saya hadapi dalam kesendirian di daerah 3T yang mungkin menyebabkan tidak betah lagi karena hampir tidak ada lagi yang membuat saya betah. Namun intinya adalah kembali kepada diri kita sendiri. Waktu satu tahun bisa dirasakan begitu cepat, namun juga bisa dirasakan sangat lambat.

Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org