DARI ROTE KUMENGERTI - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » DARI ROTE KUMENGERTI

DARI ROTE KUMENGERTI

Written By Irfan Dani on Tuesday, April 30, 2013 | 11:39 AM


Foto: Awad Sahaja SM-3T 2011
“SM3T itu adalah wadah menyalakan nasionalisme di penjuru pelosok 3T, SM3T adalah wadah pembelajaran konstruksi nilai luhur guru yang sebenarnya, tak sekedar mengajar tapi belajar dari mereka yang ada di penjuru negeri ini, menjadi inspirator kecil bagi siswa dan masyarakatnya, dan belajar mencintai mereka, karena mereka adalah saudara kita”
(Abdurrahman Mahmud/ SM3T angkatan 1 Universitas Negeri Gorontalo/Penempatan Rote Ndao).

Jauh sebelum menjadi salah satu pengajar SM3T, yang ku tau tentang rote hanyalah sebuah pulau kecil di ujung selatan Indonesia dan pasti aku tak pernah tau bagaimana dan seperti apa rote itu?. Apakah pulau itu memiliki hamparan hutan yang indah? ataukah merupakan gugusan pulau yang biasa-biasa saja dan bahkan dalam benaku mungkin pulau itu tak berpenghuni dan terisolir dari hiruk pikuk manusia.
Rote sebenarnya bagaimana? dan apa yang ada disana?, pertanyaan ini selalu muncul ketika ploting daerah abdiku di bagikan, perasaan ingin tau tentang pulau ini semakin besar, kuberanikan diri untuk mencoba melakukan browsing, mencari sedikit info tentang pulau itu, dan apa yang ku dapatkan ternyata pulau itu mayoritas pemeluk nasrani, dalam pikiranku apakah ini tantangan ataukah ini sebuah cobaan, aku harus mengabdi di pulau itu dan aku akan menjadi minoritas yang jelas akan terbatas pergaulanku dan segalanya akan terasa tak sefleksibel jika daerah abdiku Aceh, Bima, Riau, atau daerah lain yang mayoritas muslim. Bisakah aku dan mampukah aku menjalankan tugas besar menjadi pendidik bagi anak-anak rote,  anak-anak yang mungkin kurang mendapat sorotan dari para punggawa bangsa ini,  itu baru satu perbedaan yang aku dapatkan belum lagi masalah budaya, makanan, pola pikir dan karakter bahkan keadaan alamnya. Pikiran semakin bercabang  maju atau mundur adalah dua kata yang selalu ada di pikiranku.
Akhirnya akibat beberapa motivasi dari beberapa orang dan terinspirasi menjadi seorang volunter telah mengukuhkan niat untuk tetap mengabdi di pulau nan kecil itu. Singkatnya aku dan rekan-rekan sesama volunter melakukan penerbangan menuju rote, melakukan transik di Makasar tanah Mamiri di selatan indonesia, singgah di tanah Surabaya, singgah di ibu kota negara Jakarta dan terus bertualang menuju Kupang dan disinilah suasana mulai terasa berbeda, inilah ibu kota provinsi Nusa Tenggara Timur inilah nama kota yang mungkin sudah tak jarang di telingaku tapi pertanyaanku di manakah pulau Rote itu?, jauhkah pulau itu dari kota kupang ini?. Rombonganku pun bermalam di kota Kupang dan di pagi harinya langsung menuju pulau Rote dengan kapal very lambat, hum sungguh eksotis landsacape provinsi ini, selat pukuafu yang biru dan beberapa labirin pulau kecil sungguh menakjubkan. Tibalah kami di pulau Rote tepatnya di pelabuhan pantai baru, wajahku menegadah ke langit dan berkata thanks to my lord ALLAH SWT atas keselamatan perjalanan ini, dan aku mulai mengamati jengkal demi jengkal tanh Rote, mendeskripsikan karakter masyarakatnya sungguh awal yang cukup membuat gugup.
Singkat cerita aku mendapat tugas di kecamatan Rote barat dan mendapat tempat tugas di SMP 1 Rote Barat, dalam benaku dimanakah Rote barat itu dimanakah SMP 1 Rote barat itu, setelah beberapa hari di penginapan kota Baa, aku pun dijemput kepsek ku namanya Stefanus Tafaib, seorang pemeluk katolik yang sangat ramah dan bijksana jika dilihat dari perawakanya dan itu terbukti selama setahun masa tugasku di sekolahnya, selanjutnya aku dibawah ke rumah penduduk yang nantinya akan menjadi keluarga baruku, kami singgah di salah satu tokoh masyarakat di desa itu namanya Paulus Giri, orangnya seperti keturanan portu dan kelihatan tegas tapi sangat ramah, kami sedikit berbinacang tentang program ku di desa ini dan apa tujuanya, selang beberapa menit datanglah beberapa rekan guru yang nantinya akan menjadi sahabat baiku nanti ada 2 orang guruh paru baya namanya Aba Dul seorang muslim asli bima dan satunya lagi Pak Bora Lado penganut nasrani asal sumba, dua orang yang begitu ramah dan humoris, perasaanku semakin membaik ternyata tak seperti apa yang ku bayangkan, alhamdullilah itulah kata yang aku ucapkan pada saat itu, kemudian aku dibawa ke rumah yang tidak jauh dari rumah tadi dan disitulah rumah keluarga baruku, keluarga yang banyak memberikan makna kehidupan keluarga terdekatku di Rote, distulah aku makan, minum, tidur dan bercanda tawa selama setahun.
Rumah ini sederhana pemiliknya adalan keluarga Mbatu, keluarga yang sangat toleran terhadap pendatang keluarga yang sangat memahamiku selam masa abdiku. Banyak hal yang kupelajari dan kumaknai di desaku, dimana masi lengketnya budaya saling membantu, budaya toleransi, aku baru tau beginilah kehidupan pluralisme yang diharapkan tak ada percekcokan akibat beda pemikiran dan pemahaman, banyak hal-hal indah yang terjadi di Rote, dari pulau ini aku mngerti bahwa pendidikan bangsa ini belumlah merata, banyak ketimpangan dalam mekanisme kepemipinan sehingga berdampak pada anak bangsa di pulau ini, aku paham aku hanyalah lilin kecil yang mungkin cahayanya tak seperti sang surya, hanya saja perasaan untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak yang termarginalkan ini sangatlah besar. Kucoba memeberikan pengetahuan dasar bahasa inggris untuk mereka, sedikit mebuka cakrawala ilmu yang terbarukan pada mereka, ku ingin mereka juga tau isue global, ku ingin juga mereka tau perkembangan sains sekarang dan ku ingin mereka sama rata dengan anak di kotaku.
Penghargaan yang begitu besar kuberikan untuk pulau ini,  dari Rote kumengerti bahwa perjuangan itu perlu, dari Rote ku mengerti tujuan pluralisme, dari Rote kutau bagaimana hidup dalam keterbatasan, dari Rote kumengerti arti berbagi dan dari rote kutau sisi indonesia lain yang mungkin hanya bisa ku lihat di TV dan dunia maya. Tanah Rote selalu membuatku teringat hidup itu sederhana tapi akan terlihat luar biasa jika kita membuat kesederhaan itu menjadi hal-hal yang istimewa jika dijalani dengan ikhlas dan apa adanya, tanah Rote memeberikan wawasan tentang fiolosofi lontarnya bahwa untuk mendapatkan nira kita perlu menggapainya sampai pada puncak lontar itu ini melukiskan bahwa orang Rote paham bahwa untuk mendapatkan sesuatu harus perlu usaha harus mampu memanjat lontar tau tekhniknya sehingga bisa menyadap niranya. Rote sekejap membuatku mengasihinya, terima kasih Rote atas apa yang kau telah berikan padaku setahun lalu.




Artikel Kiriman:


Nama: ABDURRAHMAN MAHMUD/AWAD SAHAJA
Daerah Pengabdian: Rote Ndao 
Tahun : 2011
Sekolah Pengabdian SM-3T: SMP Negeri 1 Rote Barat
Email: awadsahaja@gmail.com
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org