Jalan 6 Km, Sempat Terseret Arus Sungai Oya - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Jalan 6 Km, Sempat Terseret Arus Sungai Oya

Jalan 6 Km, Sempat Terseret Arus Sungai Oya

Written By Irfan Dani on Tuesday, May 21, 2013 | 9:50 AM

Guru dan siswa SDN Wonolagi, Desa Ngleri, Playen, Gunungkidul berusaha tetap semangat belajar dengan berbagai tantangan wilayah untuk mencapai sekolah.


Tunjangan daerah terpencil yang diterima para guru sejatinya tidak sebanding dengan jerih payah yang harus mereka lakukan untuk mencerdaskan anakanak di Gunungkidul. Seperti kisah para guru yang mengajar di SDN Wonolagi, Desa Ngleri, Kecamatan Playen. Dusun Wonolagi merupakan salah satu dusun terpencil di Desa Ngleri, Kecamatan Playen.

 Warga dusun tetap berusaha mempertahankan keberadaan sekolah dasar (SD) yang semakin lama semakin minim muridnya. Maklum, di dusun ini hanya memiliki 40 kepala keluarga (KK). Tak heran saat ini sekolah yang jaraknya tujuh kilometer dari pemerintahan desa dengan melintasi hutan tersebut hanya memiliki 15 murid. 

Dari Kecamatan Patuk, dusun ini sangat dekat dengan Dusun Kalinampu, Desa Pengkok yang hanya dibatasi dengan sungai. Jembatan gantung yang dibangun pada 2007 lalu diharapkan menjadi solusi keterisoliran warga. Kenyataannya, jembatan ini masih membuat anakanak takut melintas. SD ini juga menjadi salah satu SD daerah khusus sesuai dengan surat keputusan Bupati Gunungkidul pada 2007. 

Perjuangan untuk memberikan pendidikan juga tercermin dari para guru yang tetap aktif menularkan ilmu bagi anak-anak di sana. Paimin misalnya, guru yang mendarmabhaktikan dirinya di sekolah tersebut sejak 1988 ini mengaku harus berjuang keras untuk menjangkau sekolah. Dia pun harus menitipkan sepeda motor di Dusun Kalinampu, Desa Pengkok, Patuk sebelum menyeberangi Sungai Oya. ”Saya harus lepas baju seragam. Kemudian menyeberangi sungai,” katanya saat ditemui KORAN SINDO YOGYA kemarin. 

Tidak hanya itu, pria yang harus nglajo dari Kecamatan Pundong, Bantul ini juga pernah hampir terseret arus. ”Waktu itu banjir, saya sudah lepas baju dan celana kerja. Saya perlahan menyeberang, tapi arus tiba-tiba menjadi deras. Saya sempat minum air sungai karena sempat terbawa arus,” ucapnya. 

Hal yang sama juga dirasakan Martinah, guru yang mengajar di sekolah ini sejak 1991. Dia rela berjalan sejauh enam kilometer dari jalan raya menuju sekolah. ”Saya naik bus, kemudian turun di jalan tepatnya di Dusun Pedotan, Beji, Patuk. Jadi, saya berjalan ke sekolah ini. Saya sudah bawa baju ganti karena memang harus menyeberangi sungai. Kalau sekarang sudah ada jembatan gantung,” katanya. 

Menjadi guru adalah citacita dirinya. Meskipun harus mengajar di daerah terpencil, hal itu tetap dilakoninya. Konsekuensinya, Martinah berangkat pukul 04.30 WIB dari rumah, tepatnya Pandak, Bantul. ”Tunjangan daerah terpencil turun belakangan. Jadi seperti ada semangat baru untuk mengajar dengan adanya tunjangan tersebut,” katanya. 

Dia rela berjibaku untuk memberikan layanan pendidikan dasar bagi warga Dusun Wonolagi. Martinah juga sempat harus bertarung dengan maut ketika air sungai meluap hanya untuk menyeberang dan memberikan ilmu bagi anakanak. 

”Meski saat ini sudah ada jembatan. Namun saya sering takut juga, karena kalau berjalan (jembatan) itu bergoyang, apalagi anak-anak. Jadi anakanak dusun sebelah tidak berani sekolah di sini,” ucapnya.● SUHARJONO Gunungkidul

Sumber
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org