Delapan Jam Bertumpu Diatas Kaki Jilid I - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Delapan Jam Bertumpu Diatas Kaki Jilid I

Delapan Jam Bertumpu Diatas Kaki Jilid I

Written By Irfan Dani on Wednesday, December 26, 2012 | 1:00 PM


DELAPAN JAM BERTUMPU DIATAS KAKI
Oleh: Islamuddin syam

Kamis, 29 Maret 2012
Pagi yang cerah secerah hati kami semua. Hari ini kami akan melakukan perjalanan menuju kota kecamatan di Lengko Elar untuk berpartisipasi dalam kegiatan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2012. Saya berangkat dengan empat rekan SM-3T dan seorang guru mengantarkan 35 orang siswa yang siap mengharumkan nama sekolah. Awalnya saya sempat ragu untuk ikutserta dalam perjalanan ini karena menurut beberapa warga jarak dari dusun kami Lengko Elar memakan waktu sekitar 10 jam dengan jalan kaki. “Wah...penduduk asli yang sudah terbiasa jalan kaki saja sampai 10 jam, bagaimana dengan kami?”
Iya, perjalanan menuju Lengko Elar akan kami tempuh dengan jalan kaki. Hal ini disebabkan karena tidak ada kendaraan yang langsung menuju ke sana dan jika menyewa mobil pasti akan memakan biaya yang tidak sedikit, sedangkan biaya yang disediakan sekolah untuk kegiatan ini tidak seberapa. Untuk makan kami selama disana saja, siswa harus mengumpulkan 1 kg beras per orang. Inilah kami jauh diatas awan berjalan mendaki gunung, merayap menuruni lembah, berlari membelah hutan belantara demi satu tujuan, untuk memberitahu semua bahwa kami ada.
Dengan kebulatan tekat, akhirnya saya memutuskan untuk turut serta mendampingi siswa-siswa. Pukul 08:0 tepat semua sudah berkumpul di depan posko, kami awali dengan apel dan berdoa bersama sebelum berangkat. Banyak orang tua yang turut hadir waktu  itu, ada yang datang mengantarkan anaknya, ada juga yang datang memberi sedikit petuah dan semangat. Maklum saja ini kali pertama SMP Negeri 6 Elar turut serta dalam kegiatan perlombaan seperti ini.
Kami pun berangkat dengan penuh suka cita, senyum semangat tampak terpancar dari wajah siswa-siswa, entah karena ingin bertanding membawa harum nama sekolah, atau karena ini pertama kalinya mereka akan menginjakkan kaki di Lengko Elar. Sepanjang perjalanan terdengar canda tawa dari mereka, ada yang main tebak-tebakan, ada yang saling olok, ada yang menyanyi dan masih banyak lagi tingkah mereka.
Dari posko kami mengambil jalan potong menuju Mulu, kemudian dari Mulu kami berjalan mengikuti jalan raya menuju Cabang Lima. Sepanjang perjalanan dari Mulu ke cabang Lima, saya merasa kami seolah-olah seperti atlet-atlet Olimpiade ketika pawai memasuki lapangan. Sambil tersenyum orang-orang melambaikan tangan kepada kami. Mereka juga melontarkan kata-kata semangat, yang semakin membuat kami melangkah dengan pasti dan yakin kalau kami bisa.
“Kak, saya yakin saya pasti juara”. Ucap tiba-tiba salah satu siswa yang berjalan disampingku. Saya senang dia begitu semangat, rasa percaya diri tampak terpancar dari sorot matanya. Saya hanya meng-amin-kan perkataannya sambil tersenyum.
Kami telah berjalan kurang lebih 40 menit, tapi belum sampai juga di Cabang Lima, beberapa siswa laki-laki membantu membawa beberapa tas siswa perempuan tampa diminta. Ini salah satu sikap yang membuat  saya salut pada mereka, rasa persaudaraan yang tinggi dan kesadaran untuk membantu yang lemah. Beberapa siswa juga menawarkan untuk membawa tas saya. Tapi malu dong sama badan.
Kami jalan berkelompok-kelompok sesuai dengan kecepatan jalan masing-masing. Tapi setiap kelompok didampingi oleh seorang guru. Jumlah guru yang ikut dalam perjalanan ini ada enam orang, kami lima orang guru SM-3T dari Makassar dan Manado, sedangkan yang satunya lagi Pak Toby, PNS disekolah kami.
***
            Matahari mulai meninggi, cucuran keringat mulai mengalir dari pori-pori di setiap inci kulit kami. Sekitar pukul 09:30 akhirnya kami tiba juga di Cabang Lima. Dari kejauhan tampak Pak Erlin dan Pak Feliks bersama beberapa anak laki-laki, mereka tiba duluan di Cabang Lima. Tidak lama setelah semua berkumpul dan melepas dahaga, kamipun melanjutkan perjalanan.
            “Cukup istirahatnya, kita lanjut sekarang, Saya harap semua tetap semangat karena kata pak Toby kita akan jalan mengikuti jalan potong yang mendaki”. Kata Pak Erlin.
            “Iya, yang mau jalan duluan ikut saya, nanti yang lainnya ikut. Istrahat selanjutnya di tower, di kampung Lengor”. Sambung Pak Toby.
            “Oh, sekalian kita makan siang disana, yang sampai duluan jangan langsung makan yah! Nanti semuanya berkumpul, baru kita makan bersama. OK?”. Lanjut Pak Erlin
            “ Oke Pak”. Balas anak-anak
            Kamipun melanjutkan perjalanan, rute kali ini dari Cabang Lima ke Lengor melalui jalan potong yang sempit, mendaki dan terjal. Untung saja waktu itu tidak hujan. Jalanan yang kering saja susah untuk dilalui apalagi kalau basah.
            “Oke biar semangat kita putar musik yah?”. Kataku yang langsung disambut dengan seruan tanda setuju dari mereka. Nampak wajah lelah mulai menghiasi wajah setiap siswaku. Jalan yang dilalui kali ini begitu menguras tenaga. Kadang saat menanjak kami harus berpegangan pada ranting jambu biji yang tumbuh liar. Atau saling tarik, untuk melewati satu titik terjal.
            Setelah mendaki kurang lebih 20 menit, kami beristrahat sejenak. Sebuah tanah lapang yang dipenuhi dengan pohon jambu biji. Banyak anak-anak yang berlarian, mengintip setiap celah dari pohon jambu biji. Tak usah ditanya lagi, mereka mencari buahnya. Yah...lumayan sedikit untuk mengganjal perut.
            “Kak, ini jambu biji”. Salah seorang siswa menawarkan jambu biji yang besar ditangannya. Tampa basa basi langsung saya ambil.
            “Ayo jalan lagi, nanti kita semakin ketinggalan dari yang lainnya!” Perintahku.
            Sedikit agak lega jalan yang kami tempuh sekarang agak rata dibandingkan yang tadi. Anak-anak mulai jalan lagi sambil berkejar-kejaran. Canda tawa kembali mengiringi langkah kami. Dan kini giliran Agnes Monica yang kembali menghibur kami dengan lagu Shake it off-nya.
            Tanah lapang telah kami lalui. Di hadapan kami sekarang kembali tersaji sebuah jalan yang siap kami daki. Jalan setapak mulai kami telusuri, yang setiap saat terasa semakin terjal. Langkah kami kembali melambat saat lutut harus bekerja keras menopang beban. Jalan yang kami lalui berada tepat dipinggir ladang warga. Kami terus mendaki dengan pori-pori yang terus meluapkan laharnya
            “Iya, ayo semangat! Kita isterahat diatas.” Teriakku dengan kerongkongan yang kering untuk membakar semangat mereka.
            Kami terus berjalan selangkah demi selangkah, sampai akhirnya kami putuskan untuk mengganti air yang dimuntahkan pori-pori kulit kami. Tapi celakanya dari kami bersembilan, yang masih mempunyai air minum sisa 3 orang, itupun dengan botol kecil yang terisi tinggal separuh. “Mana Cukup”. Pikirku
            Akhirnya air itu kami bagi sembilan.
            “Pak, itu mama tua yang punya kebun.” Kata Yunita, salah satu siswaku.
            “Saya kesana dulu pak yah.” Lanjutnya
            Saya mengangguk dan kemudian dia pun berjalan ketengah ladang, menuju pondok dimana sang mama tua berada. Tampak mereka bercakap sedikit, kemudian berjalan beriringan menuju suatu tempat yang dipenuhi tumbuhan merambat. Mentimun.
            “Oh rupanya Yunita minta mentimun.” Pikirku
            Yunita pun ke arah kami. Dengan mata berbinar dia menyerahkan tiga buah mentimun yang besar. Lumayan untuk mengobati rasa haus yang membakar tenggorokan.
            “Ini, Pak saja yang bagi biar adil.” Kata Yunita
            “Bagi kah Pak.” Sahut anak-anak yang lain bergantian
            “Iya, sabar. Ada yang bawa pisau tidak?” Kataku
            “Eh jangan lupa semuanya ucap terima kasih sama Mama tua.”
            Kamipun melambaikan tangan dan berteriak mengucapkan terima kasih pada mama tua. Mama tua dari pondoknya nampak membalas lambaian tangan kami. 
            Semua sudah kebagian mentimun. Mentimun segar itu mengobati dengan sekejap rasa haus kami. Kami pun melanjutkan perjalanan. Jalan yang kami lalui masih mendaki. Hanya saja kali ini daerah yang kami lalui perkebunan kopi. Dengan berpegangan pada ranting-ranting kopi, kami terus melangkah. Menanjak dengan seribu harapan.
***
            
BERSAMBUNG.....


Sumber:  K-CAU

Share this article :

1 comment:


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org