Delapan Jam Bertumpu Di Atas Kaki Jilid II - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Delapan Jam Bertumpu Di Atas Kaki Jilid II

Delapan Jam Bertumpu Di Atas Kaki Jilid II

Written By Irfan Dani on Wednesday, December 26, 2012 | 1:01 PM


DELAPAN JAM BERTUMPU DIATAS KAKI
By: Islamuddin Syam

              Sekitar pukul 10:22, kami tiba di perkampungan. Entah apa nama kampung itu. Di sana Pak Akmal nampak masih melepas lelah bersama beberapa anak. Kami pun bergabung dengan mereka. Saling berbagi air minum dan sedikit mengabadikan perjalanan.
            Setelah isterahat sejenak, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini lebih ramai, sekitar 20-an orang bersama saya dan Pak Akmal. Jalan kami yang lalui berbatu dan agak lebar, tetapi masih menanjak. Di sisi kanan dan kiri nampak rumah-rumah penduduk berdiri menghadap jalan.
            “Pak kita sudah hampir sampai di SD yang dari kampung cuma  nampak atapnya.” Kata Angli.
            “Iya pak, disitu ada rumah mereka Bu Elen juga.” Sambung yang lainnya.
Obrolan-obrolan ringan menghiasi langkah kami. Langkah yang terus kami kayuh menapak setiap jengkal jalan dihadapan kami.Hinggatampa terasa kami sudah tiba di depan SD yang diceritakan Angli tadi, di kampung Lengor. Disana nampak Pak Erlin, Pak Tamsil, Pak Feliks dan Pak Toby beserta anak-anak yang lainnya.
Pukul 10:46 tepat kami semua berkumpul di halaman sekolah itu. Sedikit bercakap dengan guru yang ada. Anak-anak SD kelihatan mengintip dari balik jendela kelas. Mereka kelihatan berbisik-bisik satu sama lain. Mungkin heran melihat orang banyak dengan tas yang besar di punggung.
Saya duduk telentang di bawah pohon mangga di halaman sekolah itu. Melihat kedepan bersama beberapa anak. Memandang jauh membelah barisan pegunungan. Bertanya dalam hati, “dimanakah dusun kami?” Semua tertutup kabut.
Tak pernah kusangka akan melakukan perjalanan seperti ini bersama mereka. Perjalanan yang menguras tenaga. Kadang merasa tak mampu, namun harus tetap terlihat kuat dan semangat didepan mereka. Agar semangat mereka juga tetap berkobar. Don’t give up and never give up. Lagu kemenangan hati Dirly mengalun dihead set-ku.
“Ayo istrahatnya cukup. Sekarang sudah hampir jam 11, kita lanjut sekarang dan makan siang di tower” Kata Pak Erlin membuyarkan lamunanku.
Sekarang kami bersiap kembali untuk melanjutkan perjalanan. Anak-anak kembali memikul tas mereka masing-masing. Ada juga yang berbagi air minum untuk bekal dijalan. Seorang anak menawarkan untuk membawa tas bawaan saya.
“Baik sudah, kita tukaran tas saja. Kelihatannya tas kamu lebih ringan.” Kataku
Kami pun melanjutkan perjalanan melewati kebun belakang sekolah tadi. Menembus jalan yang berbatu. Kami menelusuri jalan berbatu itu yang nampaknya biasa di lalui mobil truk. Jalan yang kami lalui sekarang sedikit menurun. Tepat di sisi kiri berdiri kokoh kaki pegunungan. Sedangkan di sisi kanan, tepat di pinggir jalan menganga lebar jurang yang dalam.
Langkah kami terus berlanjut hingga kami tiba di sebuah perkampungan. Perkampungan ini cukup ramai. Hingga membuatku berpikir,”koq ada yah, yang mau tinggal jauh-jauh diatas sini?” Di sini ada kios kecil, saya dan beberapa anak belanja sedikit cemilan kecil. Untuk menemani perjalanan kedepan. Oh yah, ada juga siswa yang sempat beli sendal. Katanya untuk dipakai nanti di Lengko Elar, kota Kecamatan.
Setelah berjalan kembali beberapa menit. Kami menemukan pancuran air. Anak-anak pun berlomba-lomba meneguk air di pancuran itu. Beberapa orang juga mengisi botol mereka.
Kami terus berjalan. Matahari terus beranjak naik. Semakin terik membakar setip jejak langkah kami. Sekarang saya berjalan dengan tiga orang siswa saja. Yang lainnya sudah jauh di depan dan yang lainnya lagi masih berada di belakang kami. Kami berempat terus berjalan, sambil menikmati cemilan yang dibeli tadi. Memang jalannya sudah agak rata, sehingga bisa sedikit lebih santai.
Tiba-tiba ponsel saya berdering. Ternyata dari Pak Erlin. Katanya jika dapat cabang didepan, kami harus belok kiri. Kami memang semakin dekat dengan tower, sehingga sinyal ponsel full.
“Wah, itu belokannya pak.” Kata Elan sambil menunjuk.
Kami berbelok, ternyata jalan yang kami hadapi menanjak. Dan tower sudah terlihat semakin dekat. Kami terus melangkah. Hingga salah satu siswa yang saya temani mengeluh.
“Aduh Pak, saya tidak kuat lagi, Pak duluan saja dengan mereka Rinda dan Elan. Biar saya tunggu mereka yang dibelakang saja.” Keluh Grein
“Ayolah, semangat! Sudah hampir sampai koq, nanti di atas kita istrahat.” 
Olee... mo gereng mereka le’. Nggita tikolo Grein.” Kata Elan
“Saya su tidak kuat kah Pak.” Balas Grein
“Baik Sudah, kita isterahat disini dulu sambil menunggu teman yang dibelakang.” Kataku
“Kasihan Grein kalau sendiri di sini, nanti di culik sama cowok rebaz.”
“Grein seh bersyukur kalau diculik cowok rebaz pak.” Kata Elan sambil tersenyum.
Kami pun isterahat disitu, sambil menikmati mi sedaap goreng mentah. Tetapi agak lama menunggu, teman yang dibelakang belum muncul juga. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan setelah Grein sudah menyatakan sanggup untuk lanjut.
Tower semakin di depan mata seiring dengan semakin menanjaknya jalan yang kami lalui. Tampak dari kejauhan beberapa anak sudah ada disekitar tower. Merek melambaikan tangan dari jauh. Membuat kami semakin semangat untuk melangkah. Melangkah, melangkah dan terus melangkah. Hingga akhirnya kami sampai juga di tower.
Tepat pukul 12:01 kami semua berkumpul di tower. Setelah melepas lelah menikmati pemandangan yang luar biasa indah dan mengabadikan setiap moment kala itu. Tidak habis pikir, kami berada di puncak tertinggi di Kecamatan Elar. Lelah perjalanan yang tadi terbayar sudah dengan maha karya ciptaan Tuhan dihadapan kami.
Sekitar pukul 12:13 kami pun menikmati bekal yang kami bawa. Suasana hangat kebersamaan yang tak terlupakan. Makan bersama di puncak tertinggi, menikmati makanan yang sangat-sangat sederhana. Namun semuanya terasa sangat lezat. Tak pernah rasanya menikmati makanan sedamai ini. Beberapa anak menawarkan bekal yang mereka bawa. Jujur, melihat bekal mereka membuat dadaku sedikit agak sesak. Begitu sederhana, namun senyum mereka tetap merekah menikmati bekalnya dengan suka cita.
“Ya Allah, mereka betul-betul luar biasa, mereka mengajariku banyak hal.” Gumamku dalam hati.
***
Pukul 12:30 kami melanjutkan perjalan. Kami berjalan beriringan, tidak membentuk kelompok-kelompok kecil lagi. Karena didepan nanti kami akan melalui hutan. Menurut Pak Toby, jalan di depan tidak mendaki lagi. Kebanyakan jalan rata dan menurun.
Dan benar saja kata Pak Toby, jalan yang kami laui sekarang menurun. Ditambah lagi dengan kondisi jalan yang sempit dan licin. Beberapa siswa harus terpeleset dan terjatuh, termasuk saya. Dengan hati-hati kami berpegangan pada semak belukar yang ada disamping kami untuk menuruni jalan yang licin. Agar pantat kami tidak mendarat lagi di tanah untuk kesekian kalinya.
Melewati jalan menurun yang licin. Kami memasuki hutan. Hutan yang lembab, sinar matahari nampak bersusah payah untuk menembus lebatnya hutan ini. Kondisi hutan yang lembab, jalan licin dan menurun sedikit memperlambat langkah kami. Pak Toby mengingatkan untuk waspada terhadap binatan buas. Katanya binatang yang sering mengganggu ular dan kera yang besar. Semakin membuat suasana menjadi horor. Saya pun sedikit agak takut.
Keheningan menghiasi langkah kami di tengah hutan. Kami membelah hutan dengan mulut yang puasa bersuara. Mungkin semua lagi konsentrasi penuh menapaki setiap jengkal hutan ini.
Setelah lama berjalan, akhirnya sinar matahari kembali menyinari tubuh kami. Jalan yang kami lalui sekarang berada di tanah lapang yang luas. Mulut kembali bersuara setelah puasa tadi. Canda tawa kembali menemani langkah kami. Sesekali saya berbalik melihat hutan yang kami lalui tadi. Ternyata luas juga.
Sekarang kami harus kembali menurui jalan, melewati sebuah sungai kemudian kembali berjalan di pematang sawah. Anak-anak berjalan sambil bermain, dengan mengambil biji-bijian dan saling lempar. Kami berjalan terus hingga kini kami melintasi perkebunan kopi milik warga. Keluar dari kebun kopi kami disambut oleh tanah lapang.
Jauh di tengah tanah lapang ada tempat penampungan air. Air mengalir sangat deras dari penampungan itu. Tampa aba-aba, anak-anak berlarian ke sana melepas dahaga mereka. Mereka minum dengan puas. Saya pun tidak ketinggalan, segera tenggorokan saya aliri dengan air itu. Dan ternyata sangat segar, asli dingin. Menuruku lebih segar dari air mineral bermerek yang beredar dipasaran. Nikmatnya.
Ternyata tidak jauh dari tempat kami berada sekarang, ada perkampungan. Kampung Ledug, di sana juga ada rekan SM-3T. Rencananya kami ingin melepas lelah di sana.
Akhirnya perjalanan pun kami lanjutkan setelah puas menikmati air segar tadi. Kami memasuki kampung Ledug. Banyak warga yang nampak keheranaan melihat kami melintasi kampung itu. Dan setelah bertanya pada salah seorang warga, kami pun menemukan tempat tinggal rekan kami itu.
Mereka rencananya akan ke Lengko Elar juga. Jadi kami jalan bersama. Menurutnya Lengko Elar sudah tidak jauh dari situ. Kami pun senmakin semangat melangkah, membayangkan diri sudah sampai di rumah Pak Toby. Ingin segera rasanya merebahkan badan yang sudah lelah tingkat tinggi.
Dari Ledug kami berjalan melewati jalan yang menurun. Melintasi sungai dan kembali mendaki. Tapi kondisi jalan yang kami lalui berbeda dari yang sebelumnya. Jalanan cenderung lebar dan bagus. Sehingga tidak terlalu bersusah payah untuk melintasinya.
Setelah berjalan kurang lebih dua jam, akhirnya kami sampai di rumah Pak Toby. Tampa pikir panjang saya langsung merebahkan badan saya diatas tikar di ikuti beberapa siswa.
“Pak, jangan di situ kah, di ranjang saja. Biar anak-anak saja yang di situ.” Tawar Mama Rolyn istri pak Toby.
“Biar saja. Yang penting bisa baring dulu bu.” Jawabku.
Tidak lama, satu per satu siswa sudah sampai di rumah ini juga, beserta mereka pak bertiga, Pak Akmal, Pak Tamsil, dan Pak Feliks. Saya dan beberapa anak tiba duluan karena kami melalui jalan potong.
Kami semua tiba di rumah Pak Toby sekitar pukul 16:27. Anak-anak banyak yang baring telentang. Mereka kelelahan, nampak jelas terpancar dari wajahnya. Kasihan, mereka harus menempuh perjalanan yang lama seperti ini demi mengharumkan nama sekolah. Mereka begitu kuat berbeda dengan anak-anak yang kukenal di kampung halamanku. Entah apa yang terjadi kalau mereka yang mengalami perjalanan sejauh ini, pikirku dalam hati.
Setelah isterahat, saya dan beberapa anak laki-laki pergi mandi di sungai yang tidak jauh dari rumah itu. Kami kembali dari sungai dan tiba kembali di rumah sekitar pukul 18:30. Saya kaget begitu tiba di rumah, empat orang siswi kami kesurupan di rumah sebelah. Ada yang berteriak karena berhalusinasi kakinya di lilit ular besar, ada juga yang menjerit karena berhalusinasi di ikuti kakek tua, sedangkan dua orang lainnya menangis menjerit-jerit  . Panik, takut dan pikiran negatif menggerogotiku. Saya angkat tangan untuk masalah yang satu ini.
Mungkin mereka kelelahan atau bagaimana. Entahlah!
Ini hanya sederet kisah kami, ketika melakukan perjalanan ke Lengko Elar. Kisah yang tak seindah pelangi namun kisah ini tak akan lekan oleh waktu dan akan tetap menjadi cerita.
***
·         Olee... mo gereng mereka le’. Nggita tikolo: Waduh...tidak usah menunggu mereka. Kita duluan saja
·         Rebaz: Ganteng


Sumber: K-CAU
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org