Terserang Penyakit Kulit, Beli Air Bersih Rp10 Ribu per Galon - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Terserang Penyakit Kulit, Beli Air Bersih Rp10 Ribu per Galon

Terserang Penyakit Kulit, Beli Air Bersih Rp10 Ribu per Galon

Written By Irfan Dani on Thursday, May 10, 2012 | 3:35 PM

Kendala yang dihadapi para guru SM-3T belum selesai sampai di SMAN 3 Kecamatan Simeulue Tengah saja. Beberapa hambatan lainnya juga dialami para guru yang mengabdi di Kecamatan Alafan.
Kesuma Ramadhan, Kepulauan Simeulue
Sebagai wilayah terluar bagian barat kawasan Pulau Simeuleu, ketiadaan akses penerangan, transportasi, hingga air bersih menjadi momok bagi para pengabdi SM-3T lainnya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.
Erni Susanti, selaku guru SM-3T yang mengisi mata pelajaran Bahasa Inggris di SMPN 2 Alafan Desa Serafon, dan beberapa teman lainnya menceritakan kisah pengabdian mereka yang telah berjalan empat bulan lamanya.
Selain harus beradaptasi dengan kondisi cuaca alam yang tak menentu, para guru SM-3T ini juga harus mampu bertahan dengan keterbatasan bahan makanan di balik mahalnya biaya hidup di daerah tersebut.
Untuk bisa bertahan di daerah pengabdian mereka, Erni bersama ketiga temannya yang lain, harus menyewa sebuah rumah dengan kondisi seadanya. Ini termasuk wajar,  karena mereka hanya membayar Rp900 ribu per tahunnya.
“Untuk makan, kita sulit mencari bahan pokoknya. Biasanya kita selalu memanfaatkan mie instan dan telur. Kalau tiap hari beli nasi, harganya cukup mahal. Kalau mau mencari bahan sayuran, kita harus turun ke kota. Itupun bisa dilakukan seminggu sekali jika ada angkutan yang masuk kemari,” ujar Erni.
Namun, masalah yang sebenarnya menghantui Erni dan kawan-kawan yakni ketiadaan air bersih dan bahan makanan yang memadai. Untuk konsumsi air minum, mereka memanfaatkan jasa pengantar air isi ulang yang datang setiap seminggu sekali, dengan harga per galon Rp10 ribu.
Sementara untuk mandi, Erni dan temannya mengaku harus rela menggunakan air keruh dan berwarna coklat, yang sering mereka analogikan sebagai air kopi susu. Alhasil dengan rutinitas menggunakan air yang kurang bersih dan keruh itu, menyebabkan timbulnya penyakit yang menghiasi hari-hari mereka.
Ini dirasakan langsung oleh Erni. Dia merasakan gatal-gatal pada seluruh tangan dan sebahagian wajahnya sejak bulan pertama kehadirannya di  Desa Serafon. Setelah empat bulan bertugas, penyakit itu bukannya hilang tapi malah menimbulkan bekas luka.
Walaupun upaya pengobatan telah dilakukan di puskesmas pembantu (Pustu) daerah itu, namun kulit telah dipenuhi luka, tak mudah untuk menyembuhkannnya.
“Udah diobati kok, walaupun belum sembuh sepenuhnya. Mudah-mudahan saja alerginya tidak menjalar ke seluruh badan,”ujar Erni sembari tersenyum simpul menutup kesedihannya.
Meskipun begitu, Erni tetap merasa yakin akan mampu bertahan untuk bisa mengabdi di daerah tertinggal dan terluar selama satu tahun, sesuai kontrak yang telah disepakati para guru SM-3T ini.
Nasib serupa juga dialami Grace Hesty Napitupulu. Sebagai guru SM-3T bidang biologi, Grace juga menghadapi beberapa kesulitan dalam beradaptasi dengan kondisi lingkungannya.
Dari penuturan Grace, kendala penerangan di daerah yang mereka tempati turut menghambat produktivitas mereka dalam melakukan pengabdian. Grace dan kawan-kawannya mengaku hanya bisa menikmati penerangan sejak pukul 18.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB saja. Selebihnya mereka harus menyiasati dengan memasang lampu teplok untuk membantu penerangan di tempat tinggal mereka.
Itu disebabkan Desa Serafon tak memiliki pembangkit tenaga listrik dan hanya  memanfaatkan penerangan dengan  tenaga surya. Kondisi ini tentu saja berbanding jauh dengan kehidupan yang dilalui Grace di tempat kelahirannya, Tebingtinggi. Selain listrik, hambatan akses komunikasi dan keterbatasan sinyal juga menjadi kendala.
“Kalau mau mengabarkan sesuatu kepada keluarga dan kawan-kawan lewat handphone, biasanya kami mencari sinyal ke daerah bebatuan yang berdekatan dengan pantai di belakang rumah. Inipun belum tentu bisa dilakukan setiap setiap hari,” ujar wanita yang baru saja menamatkan pendidikan guru di Unimed itu.
Di balik kondisi tersebut, keprihatinan juga hadir dari minimnya kemauan penduduk  yang berusia sekolah untuk mendapatkan kesempatan pendidikan. Bahkan, keadaan tersebut ini diakui Sadaruddin, seorang warga yang juga petugas kantor Kecamatan Alafan. “Budaya masyarakat di sini memang kurang kemauan untuk belajar. Salah satunya karena masalah ekonomi. Para orangtua lebih memilih anaknya membantu mereka kerja di ladang atau ikut mencari ikan yang dianggap lebih menghasilkan ketimbang harus bersekolah,” ucapnya.
Dari data yang disebutkan Sadaruddin, dengan jumlah penduduk berkisar 10 ribu jiwa, rata-rata warga Alafan memiliki penghasilan yang beragam baik sebagai nelayan, bertani, berdagang, maupun beternak.
Lemahnya kesadaran masyarakat tentang pendidikan ini jugalah, menurut Sadaruddin menjadi salah satu alasan kecamatan Alafan sulit berkembang. Ditambah lagi, keadaan miris di mana sebagai sebuah kabupaten, Simeulue tidak memiliki lembaga pendidikan tinggi.
“Seandainya pun anak-anak kita sudah menamatkan SMA, setelah itu mereka tak punya pilihan untuk kuliah di daerahnya. Karena kalau mau kuliah mereka harus ke Aceh atau Kota Medan. Dan, ini pastinya membutuhkan biaya yang sangat besar. Secara otomatis keinginan untuk melanjutkan kuliah pun tak bisa dilakukan karena alasan ekonomi. Wajar saja akhirnya mereka memilih bekerja membantu orangtuanya,”sebutnya.
Secara geografis, letak Alafan, bilang Sadaruddin kurang menguntungkan untuk bisa cepat berkembang. Sebagaimana pengalaman perjalanan Sumut Pos, untuk bisa tiba di Kecamatan Alafan, harus ditempuh dengan perjalanan panjang yang penuh tanjakan dan tikungan tajam.
Jika dirunut dari titik keberangkatan awal dari Desa Sinabang Kecamatan Simeuleu Timur, untuk mencapai lokasi Alafan, setidaknya harus melewati tiga kecamatan terlebih dahulu. Yakni Kecamatan Teupah Barat, Simeuleu Tengah, Salang dan terakhir Alafan.
Sebagai sebuah Kecamatan, Alafan memiliki delapan desa yakni Lafakha, Teluk Dalam, Lubuk Baek, Langi, Serafon, Lohok Pau, Lamerem, dan Lewak. Alafan dianggap sebagai Kecamatan terpencil dan terluar karena kondisinya yang begitu jauh dari pusat kota.
Sumber:
Sumut Pos
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org