Mengunjungi Sekolah-Sekolah Terluar Indonesia di Maluku Barat Daya - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Mengunjungi Sekolah-Sekolah Terluar Indonesia di Maluku Barat Daya

Mengunjungi Sekolah-Sekolah Terluar Indonesia di Maluku Barat Daya

Written By Irfan Dani on Friday, April 26, 2013 | 10:25 AM

Keberangkatan Kapal Bergantung Cuaca dan Hajat Nakhoda

Foto : radar bogor

JADI KENDALA: KM Parangro yang membawa tim monev SM-3T Unesa merapat di Dermaga Saumlaki, Maluku Tenggara Barat.
Untuk memantau pelaksanaan ujian nasional (UN) di MBD, pemerintah pusat memberikan plafon anggaran kepada empat anggota tim pemantau independen. Mereka adalah para dosen di Universitas Pattimura (Unpatti), Ambon. Empat orang itu bertugas mengawasi pelaksanaan UN di sekolah-sekolah yang lokasinya tersebar, berjauhan, dan terpisahkan laut dengan jadwal transportasi yang tidak pasti.

Ketidakpastian jadwal keberangkatan kapal itu membuat tim Unpatti baru bisa berangkat menuju MBD empat hari menjelang UN. “Ketika sampai di sini kami bingung,” kata Kevin Tupamahu, salah seorang anggota tim. “Sebab, lokasi sekolahnya jauh-jauh,” tambahnya.

Dosen FKIP Unpatti tersebut kesulitan untuk membagi tugas dengan tiga rekannya lantaran lokasi sekolah yang terpencar. Perlu manajemen waktu yang tepat agar mereka bisa mendatangi sekolah-sekolah tujuan.

“Andai saja saya bisa membelah diri, separo badan saya di sini, separo lainnya ke pulau seberang,” katanya berkelakar.

Lantaran terbatasnya alat transportasi dan cuaca yang tidak menentu, seorang anggota tim Unpatti belum sampai di lokasi ketika UN sudah memasuki hari ketiga. “Begitu teman itu sampai di lokasi, UN sudah selesai. Jadi, apa yang diawasi,” tutur Kevin.

Kondisi geografis dan ketidakpastian jadwal transportasi membuat banyak daerah di MBD yang terisolasi. Pulau-pulau di MBD terputus dari dunia luar. Saat-saat seperti itu bisa berlangsung berbulan-bulan. Biasanya itu terjadi pada Desember-Maret, ketika angin dari barat berembus kencang. Pada Mei-Agustus giliran angin timur yang bertiup.

“Kalau cuaca seperti itu, biasanya tidak ada kapal yang berani mendekat ke sini (MBD),” kata Nanda Okkayanti, alumnus Universitas  Negeri Surabaya (Unesa) yang mengikuti program SM-3T (sarjana mendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal) 2012. Dia ditempatkan di Pulau Sermata, Kecamatan Mdona Hyera, sebagai guru di salah satu sekolah setempat.

Sejak tiba di Pulau Sermata pada November 2012, Nanda dan belasan peserta program SM-3T seperti terkungkung di pulau kecil itu. Dia terisolasi dari dunia luar. Isolasi makin lengkap karena sarana komunikasi minim. Tidak ada jaringan telepon yang masuk. Apalagi sinyal telepon seluler. Satu-satunya jaringan telepon yang bisa hanyalah telepon satelit yang tarifnya sangat mahal.

“Untuk satu menit bicara saja bisa puluhan ribu rupiah,” kata Nanda.

Maka, untuk melampiaskan kerinduan atau sekadar berkirim Keberangkatan Kapal Bergantung Cuaca dan Hajat Nakhoda kabar kepada teman atau keluarga di Surabaya, Nanda “terpaksa” menggunakan jasa pos surat. Itu pun sampainya di alamat tujuan tiga bulan kemudian.

Jalur transportasi laut memang menjadi satu-satunya sarana yang menghubungkan pulau-pulau di wilayah MBD. Sementara itu, lapangan terbang di Pulau Kisar hanya dapat didarati pesawat perintis. Itu pun penumpang harus memperhitungkan dengan cermat agar kedatangannya sesuai dengan jadwal kapal. Dari Ambon ada dua kali penerbangan sehari dengan pesawat perintis bertempat duduk 32 menuju Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB).

Dari Saumlaki perjalanan dilanjutkan lewat jalur laut menuju MBD dengan kapal yang tidak setiap hari ada. Yang sering terjadi, kapal sudah berangkat ketika pesawat dari Ambon baru tiba. Kalau sudah begitu, penumpang yang akan meneruskan perjalanan ke MBD harus menginap minimal semalam di ibu kota Kabupaten MTB itu.

Rombongan tim monev (monitoring dan evaluasi) SM-3T Unesa yang bermaksud menuju MBD beberapa kali terpaksa mengubah jadwal karena harus menyesuaikan keberangkatan kapal.

“Kami terus berkoordinasi dengan peserta SM-3T yang ada di lapangan untuk memastikan jadwal keberangkatan kapal,” papar Direktur P3G (Program Pendidikan Profesi Guru) yang juga Koordinator Program SM-3T Unesa Prof Dr Luthfiyah Nurlaela MPd.

Ketika Jawa Pos dan tim monev program SM-3T hendak menumpang KM Marsela dalam perjalanan pulang dari Tepa, MBD, menuju Ambon, keberangkatan kapal tertunda hingga delapan jam. Namun, kali ini bukan karena gangguan alam. Tapi, tim harus menunggu kedatangan nakhoda yang pulang ke rumah di pulau seberang.

Semula perjalanan pulang akan menggunakan jalur udara dari  Saumlaki ke Ambon, setelah terlebih dahulu menumpang KM Parangro dari Tepa ke kota itu. Perubahan dilakukan karena ada beberapa tujuan monev yang dibatalkan karena tidak ada kepastian sarana transportasi.

Menurut jadwal, setelah monev di sekolah-sekolah di Pulau Babar, tim ke Kecamatan Mdona Hyera yang terdiri atas Pulau Sermata dan Luang. Jaraknya sekitar enam jam dengan speedboat. Namun,tidak ada kepastian adanya kapal dari Mdona Hyera menuju kembali ke Pulau Babar.

“Kapal menuju ke sana (Mdona Hyera) ada, tapi untuk kembali belum tentu ada,” papar Pendeta Abraham Welhemus Beresaby, kepala Kelasis (kumpulan gerejagereja)  Pulau Babar dan sekitarnya, yang ditemui Jawa Pos.

Karena itu, Beresaby tidak merekomendasikan tim monev berangkat ke Mdona Hyera. “Kalau sudah tertahan di sana (PulauBabar), Anda bisa berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan menunggu kapal yang tidak tentu datangnya,” kata pendeta yang akrab dipanggil Ambi itu.

Di tengah ketidakpastian tersebut, tersiar kabar bahwa KM Marsela yang berangkat dari Kupang akan singgah di Tepa dalam perjalanan menuju Ambon. Karena itu, rombongan memutuskan untuk naik kapal tersebut.

Informasi awal, KM Marsela merapat pukul 01.00. Dengan lama perjalanan dua hari dua malam, kapal dijadwalkan sampai di Ambon Minggu sore (21/4).

“Dengan perhitungan seperti itu, kita bisa mengejar pesawat terakhir Ambon”Surabaya,” harap Luthfi, panggilan akrab Prof Luthfiyah.

Namun, ternyata kapal baru merapat di Dermaga Tepa pukul 04.00. Meski didera rasa kantuk yang hebat, kami harus berkemas masuk kapal. Tiket kami beli di atas kapal. Juga, sewa kamarnya. 

Begitu semua masuk, kapal belum juga berangkat. Bahkan, kemudian terdengar pengumuman bahwa kapal baru angkat jangkar pukul 12.00. Penantian kami pun makin panjang dan melelahkan. Apalagi, alasan penundaan itu bukan cuaca buruk, melainkan sang nakhoda sedang pulang ke rumah di Pulau Wetang, pulau kecil di seberang Pulau Babar yang bisa ditempuh 15 menit dengan speedboat.

Mungkin karena nakhoda tersebut rindu berat kepada keluarga, penundaan keberangkatan yang semula pukul 12.00 molor lagi. Nakhoda baru tiba di Dermaga Tepa pukul 15.00.

Dengan menumpang KM Marsela dari Tepa ke Ambon, rombongan bisa menghemat waktu dua hari. “Memang rumit untuk menyusun rencana perjalanan yang efisien ke MBD maupun sebaliknya,” tandas Luthfi. (*/c10/ari)

Sumber
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org