Teachers as Patriots (SM3T Kemendikbud RI) - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Teachers as Patriots (SM3T Kemendikbud RI)

Teachers as Patriots (SM3T Kemendikbud RI)

Written By Irfan Dani on Tuesday, March 5, 2013 | 8:23 AM



Teachers as Patriots (SM3T Kemendikbud RI)
A Tribute to Winda and Geugeut
 This is an opportunity to tribute Winda and Geugeut as teachers who touched our hearts is now lost, as they have both passed away, but we have thought of them often and each deserved to be called patriots. We recognize the great sacrifices that they have made for the nation. Hopefully this writing will immortalize them and give them the recognition, honor and respect they deserve.
Winda dan Geugeut adalah rekan seperjuangan kami di Program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) 2012 yang meninggal dunia. Mereka ditugaskan sebagai guru SMPN 2 Simpang Jernih di Desa Melidi, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur.
Pada Senin petang, 26 November 2012 sebuah boat yang mereka tumpangi tenggelam di kawasan Batu Katak. Mereka baru saja kembali dari kota Langsa karena ada pertemuan rutin SM3T yang diikuti hari sebelumnya. Pada saat itu, kondisi arus sungai memang sedang deras. Langit terlihat cerah namun beberapa hari sebelumnya kawasan itu terjadi hujan. Karena musibah ini, seluruh jajaran Kementerian Pendidikan RI merasakan duka yang mendalam.
“Mereka adalah pahlawan yang gugur dalam menjalankan tugas suci untuk pendidikan di Indonesia,” (Kemendikbud RI)
Winda dan Geugeut sudah dinobatkan sebagai pahlawan pendidikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kami sebagai rekan seperjuangan mereka merasa sangat bangga. Mereka adalah guru yang memiliki sikap patriotisme yang tinggi yang sesuai dengan salah satu tujuan program SM3T yang telah dirumuskan Kementrian yaitu membentuk guru yang bersikap profesional, cinta tanah air, bela negara, peduli, empati, terampil memecahkan masalah pendidikan, dan bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa.
Sebelum berangkat untuk kembali ke tempat tugas, Winda dan rekan-rekannya sempat berfoto untuk mengabadikan momen tersebut. Dalam foto mereka terlihat ceria. Ketika boat yang mereka tumpangi sudah jalan, salah seorang dari mereka juga sempat mengambil foto. Dalam foto terlihat air sungai yang kecokelatan dan di depan mereka terdapat hutan.
“Mari kita maju bersama mencerdaskan Indonesia menjadi sarjana mendidik bangsa. Menujulah yang terdepan, gapai mereka yang terluar, jangkaulah mimpi-mimpi yang tertinggal demi terwujudnya generasi emas Indonesia”
Potongan lagu Maju Bersama yang dibuat dirjen dikti tersebut selalu ada di benak Winda dan Geugeut. Sehingga hal inilah yang membuat mereka tetap semangat dalam menjalankan tugas walaupun dengan keadaan minim fasilitas. Mereka menunjukan semangat yang luar biasa semata-mata untuk tujuan mewujudkan generasi emas Indonesia yaitu siswa-siswi yang berada di pedalaman sana.
Winda Yulia berasal dari Ciamis, Jawa Barat. Ia lahir pada 27 Juli 1990 silam. Winda merupakan alumni UPI Jurusan Pendidikan Matematika. Di kampus Winda tercatat sebagai mahasiswa yang berprestasi, ia pernah meraih Honorable Mention ON MIPA-PT bidang Matematika. Ia juga pernah mendapatkan Juara 3 OSN PTI Tingkat Provinsi Jawa Barat pada tahun 2011. Guru muda tersebut juga pernah mendapat Juara 3 Olimpiade Sains Teknologi Nasional 2011. Dengan prestasi tersebut, Winda ingin ilmunya berguna bagi bangsa Indonesia, salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan mengikuti program SM3T.
Geugeut Zaludiosanusa Anafi lahir pada 23 Januari 1988 di Bandung, Jawa Barat. Ia adalah guru olahraga lulusan kampus UPI. Saya masih ingat sehari sebelum musibah itu, malamnya semua peserta SM3T tidur dalam satu ruangan yang disediakan disdik (tentunya laki-laki dan perempuan terpisah). Kebetulan saya tidur bersebelahan dengan Geugeut, sebelum kami berdua terlelap ia sempat bercerita, berbagi pengalaman di tempat tugasnya yang hampir dua bulan itu. Ia bercerita begitu minimnya fasilitas hidup disana. Sulitnya transportasi, sedikitnya air bersih, dan jauhnya membeli bahan makanan. Sampai-sampai untuk makan saja harus mencari sayuran yang tersedia alami di hutan dan memancing ikan di sungai. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan tempat tiinggal asalnya di Bandung yang sudah memiliki fasilitas umum yang cukup baik. Iapun bercerita pernah sakit selama tiga hari karena kakinya terinfeksi kotoran babi. Namun keadaan tersebut tidak membuatnya putus asa, saya menemukan keyakinan dimatanya bahwa ia tetap mau menjalankan tugas sebagai guru SM3T disana. Setelah mendengarkan pengalaman Geugeut, semangatnya yang besar inilah yang membuat saya kagum padanya.
“Tatap langit biru jangan ragu melangkah, jangan biarkan rasa takut hati meraja,
Tanam semangat pastikan mental membaja, tak pernah ada kata terlambat,
Tak akan ada ruang malas yang akan menghambat, selagi ada mau serta giat,
Saling berbagi berbalut dalam kasih, buka harapan pasti, rangkul yang tertatih,
Dengan senyuman ulurkan tanganmu, mereka damba kesempatan yang sama..
Melewati tantangan, onak duri rintangan dan halangan,
Tak patahkan semangat, tetap berangkat, walau tanpa jalan pintas, pelan merambat,
Yang bisa kita buat, bisa kita lakukan, saat buah tangan kita bersama disatukan,
Tumbuhkan kesadaran dan siap untuk lakukan,
Pacu mereka, bekali, dan mampukan, bukalah hati, pikiran dan perasaan,
Topang mimpi mereka agar tak terpatahkan, masa depan bangsapun cerah terasa,
Perkuat generasi muda agar gagah perkasa.
Bukalah hatimu untuk mereka, tunjukanlah kasihmu, tunjukan harapan,
Karena hari depan di tangan mereka. Bersama-sama kita bangun masa depan bangsa Indonesia.”
Potongan lirik lagu berjudul “Bukalah Hati” yang dibuat Saykoji ini mengingatkan saya bahwa semangat lagu tersebut sama besarnya dengan semangat Winda dan Geugeut.
We will never forget Winda and Geugeut. We hope we can meet them in the “afterlife” life. They were gifted teachers and they taught us about struggle. We found them to be great teachers and friends. They were really inspiring examples to us. They were always supportive and encouraging. And we remember how they encouraged us to think for education development. They have since passed away and they were indeed positive influences on our mind and on our soul.
Winda and Geugeut, we all love and miss you so much, it is not fair that we had to lose such wonderful people. Now we are trying really hard to continue your struggle. We know you are in a better place. Rest In Peace.


Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org