Kebangkitan Kaum Muda Pasca Reformasi - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Kebangkitan Kaum Muda Pasca Reformasi

Kebangkitan Kaum Muda Pasca Reformasi

Written By Irfan Dani on Friday, March 29, 2013 | 10:02 PM

Oleh VITALIS JEBARUS, S.Pd
(Mahasiswa Peserta PPG SM3T Angkatan I
Universitas Pendidikan Indonesia)



KURANG lebih lima belas tahun masyarakat bangsa Indonesia telah melintasi zona reformasi. Perjalanan itu serentak menggugah kesadaran kolektif untuk menjunjung kebebasan dan keberpihakan pada hak-hak minoritas dan individu. Fosil-fosil status quo dan diktatorisasi kaum elite orde baru perlahan-lahan terkikis oleh erosi kebebasan berkspresi. Perluasan ekspansi berekspresi menjadi bagian dari kebebasan berdemokrasi, gerakan-gerakan yang mengatasnamai kepentingan publik telah mengikat rasa dan semangat masyarakat kelas bawah.
Selain kebebasan berekspresi, bias transformasi dan reformasi birokrasi sistem politik memberikan dampak positif bagi prestasi anak-anak bangsa. Kegigihan dan kerja keras mereka akhirnya mampu mengembalikan citra dan reputasi Indonesia ke panggung kepercayaan global. Krisis ekonomi dan keamanan yang menyandra stabilitas dan kedaulatan nasional di penghujung rezim orde baru berhasil ditaklukan oleh pemerintahan reformis yang terpilih.
Seiring dengan petualangan itu juga, pelbagai catatan hitam yang menikam rasa tak pelak hilang dari latar pemandangan kita. Roh gerakan reformasi seakan-akan kerdil karena transformasi dan reformasi birokrasi dalam segala rana dan dimensi kehidupan bangsa belum sukses mengubah karaktaer dan prilaku manusia  di negeri ini. Masih adakah kaum muda yang siap membentuk mental dan perilaku anak-anak bangsa ini? Jawaban atas pertanyaan itu ada dalam relung dan nurani generasi muda kita.
Bila kita mengekplorasi kembali simpul sejarah masa lalu  ternyata Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki generasi muda yang terbesar, terkritis, heroitik, patriotik bahkan sangat militan dalam membentuk eksistensi bangsanya. Sudah begitu banyak cerita sejarah yang memperlihatkan kebangkitan dan kegigihan tokoh-tokoh muda di negeri ini. Peristiwa 28 September 1928 merupakan awal kembangkitan mereka melawan sparatisme kultural akibat  keanekaragaman yang paradoks dan ekslusif. Mereka telah berhasil mendirikan pilar uniformity sebagai tanda kebangkitan bersama untuk mematahkan semangat sparatisasi akibat riak agresi kolonialism, serentak membangun karakter komunal Indonesia sebagai negara yang berbineka tunggal ika.
Kaum muda juga telah berkontribusi memperjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka mampu mendesak para founder negeri ini dalam mengambil sikap untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pasca invansi sekutu atas Jepang. Tumbangnya otoritas Orde Baru dan lahirnya reformasi merupakan serangkain kisah yang menunjukkan bahwa generasi muda kita sangat peka dan peduli terhadap kondisi tanah airnya. Hingga sekarang pun mereka selalu menjadi pioner dalam menentang kebijakan penguasa yang tidak pro kepentingan publik. Dari sekian peristiwa bersejarah itu tidak sedikit juga dari generasi muda itu telah diseret dan gugur secara tragis dalam sejumlah perjuangan heroitiknya.
Belenggu Psikis Pasca Reformasi
Tekanan psikis yang kian mengkuatirkan sedang dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia pasca reformasi. Kekuatiran terjadi bukan karena melemahnya nilai rupiah, atau karena sebagian wilayah dan karya budaya dijarah negeri tetangga, tetapi penyakit itu terjadi karena semakin merosotnya karakter anak-anak negeri ini. Korupsi, suap, kolusi dan konsumsi obat terlarang, bahkah tawuran di lingkungan sekolah selalu menghiasi latar wacana media kita. Pejabat-pejabat yang menjadi orang terpilih dan terpercaya telah menjelmah menjadi penghuni istana bertrali. Siapakah yang berani menajadi psikiater-psikiater muda untuk merehabilitasi kondisi psikis manusia bangsa ini?
Tudingan dan kririk yang muncul selalu dialamatkan ke dunia  pendidikan. Kurikulum dan citra guru telah dipertaruhkan karena kemerosotan karakter anak-anak bangsa tidak terlepas dari produk akhir kurikulum. Selain itu, resistensi penyakit “mental dan prilaku” anak-anak bangsa disebabkan oleh diagnosa yang belum efektif dari para pendidik karena guru-guru kita belum  memiliki primacy compentence sebagaimana yang diharapkan. Sebagai tindak lanjut, pemerintah merevitalisasi dan merekonstruksi kembali kurikulum nasional dan pendidikan nilai mulai diintegrasikan di dalamnya. Para tenaga pendidikan di setiap jenjang pendidikan diuji kelayakan kompetensinya dan sejumlah terobosan baru mulai terlihat. Pemerintah memberikan kesempatan bagi guru-guru untuk meningkatan profesionalitasnya. Kaum muda yang telah dipanggil menjadi guru diperdaya supaya nantinya akan menjadi guru yang unggul.

SM3T siap Bangkit
Jangan takut kaum muda kita masih ada. Mereka siap menyinsingkan lengan bajunya serta merapatkan barisan untuk melawan dan memberantas penyakit sosial yang destruktif dan amoral itu. Siapakah mereka itu? Mereka adalah SM3T. Untuk mengetahui secara mendalam apa itu SM3T, tulisan ini memperlihatkan suatu cakrawala gerakan karitatif dan edukatif guru-guru muda Indonesia.
SM 3T merupakan singkatan dari Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terbelakang, dan Terpencil. Sarjana-sarjana ini diseleksi oleh LPTK yang tergabung dalam asosiasi pemerhati mutu pendidikan yang telah dilegitimasi oleh DIKTI dan Menteri Pendidikan Nasional. Setelah melewati pelbagai proses persiapan para sarjana muda ini dikirim ke daerah-daerah 3T (terdepan, terpencil dan tertinggal). Pengiriman sarjana-sarjana ini memiliki tujuan distorsif. Tujuan pertama adalah untuk mendidik anak-anak bangsa yang berada di daerah 3T. Tujuan kedua untuk menjalani suatu masa persiapan bagi para sarjana itu sendiri.
Tenaga guru yang datang ke beberapa daerah di NTT, dan Provinsi Daerah Istimewa Ace adalah para sarjana yang sedang mencari dan memperkaya pengalaman untuk mendukung pengembangan potensi diri sehingga kelak mereka menjadi guru profesional bagi bangsa ini. Selesai menjalani masa training selama satu tahun mereka akan diperkaya oleh Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan yang telah ditentukan. Tujuan pertama terimplisit dalam tujuan yang kedua dan tujuan kedua tereksplisit dalam tujuan pertama.
SM3T Bukanlah Antitesis Otonomisasi
Secara teritorial-administratif  Indonesia memiliki wilayah dan batasan-batasannya. Pembagian dan batasan itu tidak berarti kita mengekslusif dan mengisolirkan diri dari the unity. Pembagian dan  area limitationmemudahkan pemerintah dalam mengurus berbagai urusan administratif negara di pelbagai bidang. Tanggung jawab terhadap peningkatan mutu pendidikan tanah air jangan sampai dibatasi oleh sekat-sekat itu. Perlu disadarai, tanggung jawab terhadap perbaikan mutu pendidikan melibatkan semua elemen (pemerintah, masyarakat dan sekolah), bukan tanggung jawab particular. Pemerintah yang dimaksudkan adalah pemerintah pusat dan pemerintah daerah, masyarakat dalam konteks ini adalah masyarakat akademik dan masyarakat awam.
Menyangkut perencanaan dan kebijakan tertentu yang berkaitan dengan pendidikan dibuat oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah tanpa mengabaikan upaya dan peran serta lembaga-lembaga yang punya kepedulian universal terhadap pendidikan itu sendiri. Program SM 3T itu adalah  wujud dari kepedulian lembaga-lembaga pendidikan tinggi (masyarakat akademik) dan tujuannya untuk membangun pendidikan anak-anak bangsa tanpa dibatasi oleh sekat-sekat the region diversity.
Aliansi-aliansi yang sedang ada dalam bingkai antitesis terhadap program ini sedang tidak menyadari tanggung jawab dan perannya terhadap pendidikan generasi bangsanya. Mereka pandai mengkritisi inovasi dan terobosan baru yang dibuat oleh anak-anak bangsa, tetapi sayangnya mereka sendiri tidak melakukan inovasi dan terobosan demi memperbaiki citra pendidikan di wilayah nusantara ini. Kini saatnya masyarakat bangsa Indonesia menujukkan tekad dan sikapnya  untuk secara bersama-sama bertanggungjawab dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya mutu sekolah-sekolah yang ada di daerah 3T. Selain itu, bergeraklah untuk memperdayakan guru-guru yang ada supaya mereka bisa menjadi guru profesional untuk generasinya.

SM3T Bukanlah Pemulung
Kehadiran para guru ini sangat membantu pendidikan di daerah yang mengalami ketertinggalan baik dari segi mutu, sarana dan informasi akibat jangkauan yang sulit dari pusat informasi. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, semua yang hadir itu adalah para guru, baik yang sudah berpengalaman guru maupun yang sedang mencari pengalaman, mereka bukan politisi. Kehadiran para guru ini tentu mempunyai maksud mulia, yaitu ingin mendidik, membantu mengembangkan pendidikan anak-anak di daerah tujuan, mereka bukan pemulung kekuasaan. Tidak ada maksud instrumental yang terselubung selain tujuan karitatif dan edukatif tadi. Mereka tidak memiliki tendensi untuk menjadi kompeteiter bagi anak-anak daerah.
Karena kapasitas kehadiran adalah sebagai guru maka yang mereka buat adalah mengajar dan mendidik, serta mengembangkan peserta didik, mau bersama-sama dengan anak-anak daerah memperbaiki mutu pendidikan anak-anak bangsa. Mereka menyatakan kesiapsediaan karena mereka menyadari tanggung jawabnya sebagai pahlawan bangsa yang siap membangun untuk bangsanya melalui dunia pendidikan.
Program Profesi Guru
Pemerintah dan masyarakat ilmiah tidak membiarkan jiwa negeri ini terbelenggu oleh mental dan prilaku amoral . Inovasi baru telah terlintas dalam tataran kesadaran bersama dan serentak menggugah guru-guru muda untuk mengambil langkah kongkrit terhadap penyakit sosial itu. Dari sekian guru-guru muda dipilih dan dikirim untuk mengikuti pendidikan profesi guru di LPTK yang berkompeten bagi pendidikan guru. Pendidikan yang diberikan di sana memiliki nilai plus tersendiri  dan sangat berbeda dengan pendidikan yang mereka dapat semasih meraih S1. Mereka ditampung di asrama dan setiap harinya mereka mengikuti pendidikan dan workshop agar kedepannya menjadi guru unggul dan profesional.
Dengan adanya trauma psikis yang menyayat rasa, para pemerhati dunia pendidikan selalu mencari solusi dan alternatif baru untuk memperbaiki kekurangan dan kesalahan yang ada pada sistem pendidikan kita. Setelah dirilis kekurangan-kekurangan yang ada, ternyata masalahnya amat kompleks. Selain masalah kurikulum, juga karena rendahnya kompetensi guru-guru kita. Yang menonjol dari produk kurikulum adalah anak-anak berkembang dalam kompetensi parsial akibatnya anak menjadi pintar, terampil tetapi merisaukan. Sedangkan dari pihak guru, guru-guru kita belum sungguh-sungguh menjadi model bagi anak-anak didik. Agar karakter guru terbentuk maka dalam fase pendidikan guru, guru-guru pun mengembangkan keempat kompetensinya dengan cara membangun habitus mental cerdas dan prilaku unggul. Habitus berprilaku unggul ini tertuju pada pembentukan karakter personal dan sosial. Habitus baik itu tercapai bila ada komunitas hidup bersama yang dilandasi oleh prilaku-prilaku baik. Syukur bahwa PPG berasrama adalah tempat yang baik untuk membangun prilaku dan profesionalitas holistik guru.  Di lingkungan asrama guru-guru muda dididik, dicintai, dan diakui kunikannya sebagai pribadi yang khas. Keselarasan antara pendidikan, cinta dan pengakuan akan keunikan diri membuat guru-guru muda ini menjadi lebih matang dan merasa diterima sehingga dia tidak terkurung dalam prilaku-prilaku sublimatif yang destruktif.
Puisi:
MASA GURUKU
Hari-hari yang indah telah aku lalui
Mawar, duri menghiasi rasa,  karsaku
Harapan dan putus asa silih berganti
Semuanya hadir untuk menguatkan langkah, lakuku
Meski kadang aku gemetar
Aku tetap menunjukkan tekad memberantas  kenestapaan
Dengan semangat dan berani aku mengibarkan panji kebajikan
Berjanji mengubah kegelapan menjadi terang
Membawa anak-anak pertiwi menuju kerajaan impian
Impanku bukanlah kerajaan bermahkotakan kuasa dan uang
Impianku bukanlah kenikmatan dan kepuasan
Bukan kepopularitasan
Impianku adalah anak-anak bangsa yang cemerlang dalam terang
Anak-anak negeri yang beriman, berilmu, bermoral, berbudya, bermartabat dan bersaudara
Meski kadang perjuanganku tersert badai
Jiwamku terasa perih bagai biduk disengat glora
Pantang menyerah aku tetap melangkah
Menunjukkan tekad dan kebulatan hati
Mengubah impian menjadi kepastian
Kepastianku adalah ibah dan kepiluhan
Kepastianku adalah tergerak dan bergerak
Mendidik generasi muda bangsaku.


Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org