Keagungan Secarik Sarjana - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Keagungan Secarik Sarjana

Keagungan Secarik Sarjana

Written By Irfan Dani on Saturday, December 22, 2012 | 10:00 AM


Setiap tahun ujian untuk memasuki perguruan tinggi negeri ramai penuh sesak dipenuhi para peminat-peminatnya. Adapapun istilah untuk memasuki perguruan tinggi negeri dari masa kemasa selalu mengalami perubahan nama. Mulai dari sipenamru (seleksi penerimaan mahasiswa baru), kemudian berubah menjadi UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) sekarang menjadi SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) entah mau pakai istilah apalagi departemen pendidikan kita. Namaya selalu berubah ubah namun eksistensinya sama yaitu Ujian untuk memasuki Jejnajng Perguruan Tinggi Negeri. Setelah pengumuman ujian penetuan nasib ini tentunya tidak sedikit korban berjatuhan tidak masuk Universitas Idamannya. Puluhan ribu remaja stress dengan berguling-guling dilantai karena jengkel mimpinya tidak tercapai sesuai harapanya.
Tentu dibalik semua itu ada remaja-remaja lain dengan tenang pulang setelah mampir ke kantor Imigrasi menjemput paspor untuk berangkat besok. London, Here I come!Atau ke Australia. Atau Ke Amrik. Mengapa begitu banyak remaja perlu merasa masuk perguruan tinggi negeri? Sebab, seorang lulusan universitas telah dididik melaksanakan tugas selektif di antara golongan kaya di dunia ini. Pernyataan itu datang dari Ivan Illich, seorang imam Katolik yang menulis buku Deschooling Society(jika diterjemahkan menjadi bahasa Bebas Dari Sekolah, diterbitkan Sinar Harapan).
Suka atau tidak suka, penyataan Illich itu memang banyak benarnya. Lulusan universitas selalu dicari untuk mengisi kursi-kursi kosong serat penting pada perusahaan-perusahan besar dan korporasi raksasa. Seorang yang baru lulus sebagai sarjaan ekonomi dari sebuah universitas terkemuka kadang-kadang menolak sebuah pekerjaan yang ditawarkan kepadanya dengan gaji Rp.3000.000 per bulan. Alasanya? “Lulusan universitas kami biasanya langsung mendapatkan gaji Rp. 5000.000 per bulan.
Satu gelar akademis selalu menunjukkan tarif yang tidak terhapuskan pada kurikulum konsumennya. Lho, mahasiswa sama dengan konsumen? Ya, karena universitas pun identic dengan barang konsumsi. Ia menawarkan kurikulum-seberkas mata dagangan yang telah dihasilkan sesuai dengan proses yang sama dan mempunyai struktur yang sama seperti mata dagangan lainnya. Tidak heran kalau kemudia ada pejabat kita yang selalu bersabda “Gutiswa 9perguruan tinggi swasta) jangan hanya mencari untung, dong”.
Bagi sebagian besar perguruan tinggi, produksi kurikulum dimulai dengan diadakan riset-riset yang dianggap ilmiah, dan atas dasar itu para ahli perencana pendidikan meramalkan kebutuhan pada masa depan, dan kemudian mempersiapkan sebuah “model”. Tetapi coba kita perhatikan sekarang ini. Sebagai mata dagangan, universitas sangat memrlukan R & D (Riset and Development), agar menghasilkan jebolan yang lebih cocok untuk konsumennya. Litbang yang kini ada nyaris cocok untuk diplesetkan menjadi “sulit berkembang”.
Jeritn tentang otomatisasi kantor serta komputerisasi sudah lama kita dengar. Tetapi sudahkah universitas kita menjawab tantangan itu dengan memperbanyak kurikulum di bidang teknologi Informasi? Kebutuhan bisnis modern akan tenaga-tenaga terampil dibidang Informations Tehnology baru dipenuhi sebagian oleh tenaga didikan luar negeri atau paket-paket kursus kilat komputer yang kini tumbuh bagai jamur.
Kurikulum universitas kita maih penuh dengan kemubaziran. Misalnya, dimana-mana, bahkan universitas sekelas dikota kabupaten, selalu ada jurusan Hubungan International. Untuk apa jurusan ini menelurkan begitu banyak sarjana kalau toh yang jadi duta besar adalah rata-rata pernawirawan TNI.
Seorang professor kita baru-baru ini pernah mengatakan semakin lama bersekolah, makin kurang kreatif. Ini sejalan dengan pemikiran Ivan Illich yang juga mengatakan bahwa sekolah makin kurang efisien menghadapi situasi yang mendorong penggunaan secar terbatas ketrampilan yang sudah dicapai dan yang bersifat eksloratis. Kebanyakan ketrampilan memang dapat dicapai dan ditingkatkan melalui latihan-latihan , karena ketrampilan mencakup arti penguasaan tingkah laku yang dapat dijelaskan dan dapat diramalkan.
Oleh sebab itu, latihan ketrampilan dapat didasrkan pada simulasi suatu situasi yang membutuhkan ketrampilan itu. Tapi kini guru ketrampilan sudah sangat langka, karena orang lebih percaya pada nilai ijazah. Sistem magang sudah laam tidak menjadi kebiasaan dikantor-kantor swasta dan pemerintah dan universitas.
Mungkin kita lebih mendeskrditkan orang-orang yang mendidik diri sendiri, dan dengan demikian kita telah meragukan semua kegiatan non profesioanal. Sekolah, menurut Illich, sudah menjadi agama dunia baru.Hak belajar telah dikebiri menjadi kewajiban bersekolah. Korban-korban berguguran di pintu SNMPTN yang supersempit itu tentulah dapat dihindarkan, bila kita menghapus mitos lembaga universitas. Perusahaan-perusahaan harus lebih berani mendahulukan menerima yang terampil daripada yang sarjana, serta menghidupkan kembali lembaga magang.
Hal ini pasti menumbuhkan rasa percaya diri para remaja bahwa tidak masuk universitas bukanlah akhir atau pupusnya harapan. Bill Gates pemilik microsoft tidak selesai menamatkan di universitasnya. Almarhum Lim Sioe Liong pun tidak punya sarjana, kok.

Sumber:

Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org