Dua Korban Boat Tenggelam Ditemukan Meninggal - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Dua Korban Boat Tenggelam Ditemukan Meninggal

Dua Korban Boat Tenggelam Ditemukan Meninggal

Written By Irfan Dani on Friday, November 30, 2012 | 10:27 AM


KUALA SIMPANG - Pencarian korban tenggelam akibat terbaliknya boat sampan di Batu Katak, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, Senin (26/11), membuahkan hasil pada Rabu dan Kamis (29/11) kemarin. Dari tiga orang yang masih hilang, dua ditemukan dalam keadaan tak lagi bernyawa.

Keduanya perempuan, yakni Martini (44), warga Desa Melidi, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur dan Winda Yulia, guru asal Jawa Barat. Mayat Martini ditemukan, Rabu (28/11) pukul 23.00 WIB di Sungai Tamiang kawasan Desa Bengkelang, sedangkan mayat Winda ditemukan Kamis (29/11) pukul 13.15 WIB di sungai Desa Ara Sembilan Lama yang bersebelahan dengan Desa Alue Jambu, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang.

Dengan demikian, tinggal Geugeut Zaludio Sanua Anafi yang juga guru asal Jawa Barat yang belum ditemukan. Sebelumnya, Rabu (28/11) pukul 08.30 WIB, warga menemukan di Sungai Tamiang mayat Ahmad (30), tekong atau jurumudi boat sampan yang tenggelam itu.         

Koordintor Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) Aceh, Khairul Nova kepada Serambi kemarin mengatakan, mayat Martini ditemukan Niko (25), warga Desa Batu Sumbang. Niko sendiri tergabung dalam tim pencari bentukan warga yang menyusuri sungai juga menggunakan boat sampan. 

Bersama lima rekannya saat melintasi Desa Bengkelang, Niko melihat satu benda mirip organ tubuh manusia yang berada di pinggir Sungai Tamiang. Setelah didekati, ternyata benda tadi kaki manusia. Waktu ditarik, ternyata itu jasad Martini dalam posisi telungkup dan sebagian tubuhnya tertanam di pasir.

Tim penemu bersama Satgas SAR Aceh Timur dan Aceh Tamiang, RAPI, Basarnas, dan BPBD Aceh Tamiang langsung memboyong jasad korban ke desa terdekat, Batu Sumbang. Begitu ditemukan di Bengkelang, mayat Martini langsung dikafani warga di tempat. Sejak awal warga memang telah mempersiapkan kafan. “Setelah itu, barulah jenazah dibawa pulang ke desanya di Melidi,” ujar Muzib yang menyaksikan prosesi pengafanan itu. 

Versi lain menyebutkan, dari Batu Sumbang jenazah dievakuasi ke RSUD Tamiang untuk divisum, kemudian dibawa ke kampungnya, Melidi, untuk dikebumikan.

Sedangkan jasad Winda Yulia (22), guru asal Jawa Barat, ditemukan oleh warga, lalu dikabarkan kepada tim SAR gabungan yang pada Kamis siang itu memang sedang menyisir pinggir Sungai Tamiang.  “Mayat Winda kemudian dievakuasi ke RSUD Tamiang untuk divisum,” ujar Ketua Satgas SAR Aceh Tamiang, Syaiful Syahputra. 

Menurutnya, sampai kemarin sore jenazah Winda masih di kamar mayat RSUD Tamiang. Belum diketahui apakah akan dibawa pulang keluarganya ke Jawa Barat atau dikebumikan di Aceh Tamiang. “Masih belum kita peroleh keterangan dari pihak keluarganya,” ujar Syaiful.      Masih dicari 

Hingga hari keempat tenggelamnya boat sampan tanpa nama itu, pihak Basarnas tetap melanjutkan pencarian sampai semua korban ditemukan. Dalam misi pencarian ini ikut bergabung Airud Aceh Timur. 

Penyisiran dilakukan di Sungai Tamiang naik boat sampan, sedangkan di pinggir sungai dengan cara berjalan kaki.  Operasi hari keempat ini berjalan lebih lancar dibanding hari pertama hingga ketiga, karena kemarin arus Sungai Tamiang tidak lagi terlalu deras. Namun, tetap belum bisa dilakukan penyelaman, karena air sungai masih sangat keruh.  

Sebagaimana diketahui, kedua guru yang nahas itu merupakan pendidik yang tergabung dalam program sarjana mendidik di daerah terpencil, terluar, dan tertinggal (SM3T). Teman-teman Winda Yulia sesama SM3T mengaku siap untuk patungan membiayai pemulangan jenazah Winda ke Jawa Barat. Namun, harus seizin keluarga Winda. Para guru SM3T itu baru ditugaskan 16 Oktober lalu di 

Simpang Jernih, desa pedalaman Aceh Timur. “Dari Simpang Jernih baru pertama kali mereka turun ke Langsa untuk mengikuti pertemuan di Dikjar,” ujar Taufik, guru SM3T dari Unimed, Sumatera Utara, yang mengajar di SMPN 1 Darul Ikhsan, Aceh Timur. 

Ia tambahkan, sehari sebelum musibah itu terjadi, Taufik bersama sejumlah rekan, termasuk Geugeut Zaludio Sanua Anafi, bermain futsal pada Minggu pagi. “Saat itu Geugeut terlihat ceria.”  (md)

Editor : bakri

Sumber:

Serambi Indonesia
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org