Cerita Ellia Guru dari Kupang - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Cerita Ellia Guru dari Kupang

Cerita Ellia Guru dari Kupang

Written By Irfan Dani on Wednesday, November 28, 2012 | 4:46 PM

Herdiyanti Rohana
Foto : Ellia Sylviana Dewi/Herdiyanti Rohana (Okezone)
Foto : Ellia Sylviana Dewi/Herdiyanti Rohana (Okezone)
JAKARTA - Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, guru adalah pelita dalam kehidupan. Itulah sepenggalan peribahasa yang sering kita dengar untuk mendeskripsikan jasa seorang guru.
Sosok guru bukan hanya menjadi orangtua di sekolah tetapi guru juga menjadi tauladan sekaligus teman dalam berbagi ilmu. Mengajar, mendidik dan mengasah murid menjadi pintar, itulah tugas dari seorang guru. Cita-cita itulah yang mendasari Ellia Sylviana Dewi (24) mau menekuni profesi mulia tersebut.

Bertahun-tahun mempelajari ilmu pendidikan di Universitas Pendidikan Ganesha,  Bali. Dia memilih  spesifikasi Jurusan Pendidikan Biologi. Beratus-ratus tugas pun dikerjakan sampai akhirnya dia berhasil menyandang gelar sarjana.

Ellia merintis karier sebagai guru pada 2012. Dia awalnya hanya iseng mendaftar Seleksi Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM-3T). Tidak disangka dia lolos seleksi SM-3T angkatan pertama.

Ellia pertama kali ditugaskan di daerah Kupang, NTT. "Ketika nama saya lolos, saya langsung membayangkan daerah tersebut seram dan ekstrim," ujar anak pertama dari empat bersaudara, kepada Okezone, di Jakarta, belum lama ini.

Ternyata itu hanya dugaan semu. Setelah Ellia tiba di lokasi penugasan, ternyata lingkungannya jauh dari yang dibayangkankan. "Di sana kita diperlakukan ibarat raja. Apapun yang kita perlukan mereka sediakan. Sampai air pun mereka bawakan," ucapnya.

Kendati sambutan warga sangat baik, namun di hati kecilnya, Ellia tetap saja merasa lingkungan tersebut tetaplah asing. Sebab, dia harus hidup jauh dari orangtua. "Itulah yang sebenarnya saya rasakan. Perlahan semua itu hilang dengan melihat lingkungan yang begitu ramah dan asik. Semangat mengajar pun tinggi, semangat untuk mencerdaskan anak bangsa," kata Elliana yang mengaku kondisi Kupang sangat gersang.

Untuk merealisasikan dirinya sebagai guru, dia pun harus banyak beradaptasi. Contoh kecil, antara lain perbedaan jenis makanan yang dikonsumsi antara di Kupang dan di rumahnya. "Tetapi perlahan saya pun jadi biasa. Dulu saya makan buah inang terasa kecut, namun karena saya sering makan dan terbiasa, eh lama-lama enak, serasa jambu biji," cerita Ellia.

Suka dan duka pun dialami Ellia selama satu tahun menjadi guru di Kupang, namun program tersebut hanya berlangsung tahun. Sayangnya dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan Kupang.

"Saya tidak mau meninggalkan desa ini, saya sudah betah. Namun saya harus mengikuti program Pendidikan Profesi Guru Terpadu (PPG-T) yang digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)," dia menjelaskan.

Selama mengabdi di Kupang nan gersang, menurut dia, ada satu cerita yang tidak bisa dia lupakan, yaitu saat dia tidak bisa menyelamatkan salah satu nasib anak muridnya yang jatuh tertindih reruntuhan dinding rumahnya. Padahal dia berusaha sekuat tenaga menyelamatkan dan mengobati muridnya.

Beruntung, keesokan harinya sang anak didik itu sembuh. "Tapi kesembuhan murid saya itu, sembuh untuk meninggal. Saya sangat terpukul dia meninggal," cerita Ellia.

Namun, kematian muridnya itu bukan hanya karena sakit akibat tertimpa reruntuhan. Selain tertimpa reruntuhan, anak didik Elia itu juga mengalami komplikasi.
(mrg)
 
Sumber:
okezone.com
 
 
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org