Mengikuti Monev SM3T UM di Daerah Tertinggal NTT (Habis) - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Mengikuti Monev SM3T UM di Daerah Tertinggal NTT (Habis)

Mengikuti Monev SM3T UM di Daerah Tertinggal NTT (Habis)

Written By Irfan Dani on Thursday, May 24, 2012 | 9:04 AM

MONITORING dan Evaluasi (Monev) hari terakhir dilakukan tim monev Sarjana Mendidik di daerah 3T “Terdepan, Terluar, Tertinggal” (SM3T) Universitas Negeri Malang (UM) di Kecamatan Lamba Leda Kabupaten Manggarai Timur NTT. Karena kendala medan yang berat, hampir saja kunjungan tersebut dibatalkan dan dialihkan ke daerah lain.


 Namun tim monev tak ingin mengecewakan peserta SM3T dan juga warga sekolah yang sudah menunggu kedatangan mereka. Akhirnya perjalanan yang lebih mirip petualangan di rimba Manggarai pun berhasil dilaksanakan.
Supir travel yang kami pilih untuk menemani kunjungan ke Lamba Leda cukup cekatan dan tangkas menaklukkan medan. Ia menyatakan bersedia menemani tim setelah sebelumnya rekan kerjanya tidak berani membawa kendaraan ke Lamba Leda. Sepanjang perjalanan beberapa kali rombongan monev yang terdiri dari enam orang harus turun dari mobil. Ikut menyingkirkan batu besar yang menghalang di jalan atau menguruk tanah dengan batuan supaya lubangnya tidak terlalu dalam. Rombongan ini terdiri dari Koordinator SM3T UM, Dr Eddy Sutadji M.Pd, Dr Aman Santoso M.Si, Drs H Suharmanto M.Pd, Dra Hj Mimin, dan satu orang koordinator SM3T UM, Sain Widianto serta wartawati  Malang Post, Lailatul Rosida. Kunjungan pertama dilaksanakan di SMP 5 Lamba Leda. Karena gedung SMP masih dalam tahap rehab, sekolah ini ditempatkan di sebuah Kapel yang akses jalannya sangat sulit. Tak jauh beda dengan sekolah-sekolah yang kami kunjungi sebelumnya, untuk mencapai lokasi sekolah ini tim harus melewati jalanan berbatu yang runcing dengan medan jalan yang naik turun. Sekitar 30 menit kami berjalan kaki sampai wajah memerah karena nafas yang memburu dan cuaca yang sedikit terik. Yang membuat salut adalah peserta SM3T yang ditempatkan di sekolah ini setiap hari harus berjalan dengan medan seberat itu.”Berat badan saya turun delapan kilo mbak, awalnya berat juga tapi sekarang sudah terbiasa,” ujar peserta SM3T Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) UM, Nophiani Eko Putri.
Sarjana asal Kalipare Kabupaten Malang ini mengajar di SMP 5 Lamba Leda bersama dua rekannya yang lain yang asli Manggarai. Sebelumnya ada beberapa peserta SM3T dari LPTK lain yang ditempatkan disana tapi tidak kuat meneruskan pengabdian dan memilih pindah di sekolah yang lokasinya lebih dekat. ”Saya bangga dengan guru dari Malang karena bertahan mengajar disini,” ungkap kepala SMP 5 Lambaleda, Nampung Alexander SH.
Kedatangan tim monev di sekolah ini juga disambut dengan upacara adat Manggarai. Seperti biasa, seekor ayam dan minuman tuak khas menandai betapa sekolah di daerah terpencil begitu bangga bisa dikunjungi UM yang saat itu juga menjadi wakil Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Jakarta.
Setelah berdialog dengan pihak sekolah, tim monev melanjutkan kunjungannya ke SMA 1 Lamba Leda. Peserta SM3T yang mengabdi disana mengerahkan motor untuk mengangkut tim monev yang sudah kelelahan setelah kunjungan sebelumnya. Meski naik motor bukan berarti perjalanan menjadi lancar, kami pun dibuat tegang dengan medan jalan yang sebenarnya sangat tidak layak untuk dilalui kendaraan. Jalan berbatu dan lubang dimana-mana membuat kami menahan nafas dan berdoa agar motor tidak selip.
Di SMA 1 Lamba Leda, tim monev UM bertemu dengan satu peserta dari LPTK UM Samsul Arifin, dua peserta dari LPTK Universitas Negeri Gorontalo dan satu peserta dari Universitas Negeri Makasar. Kepala SMA Negeri 1 Lamba Leda, Drs Benedictus Kenor dalam sambutannya berharap program SM3T tidak hanya dilaksanakan satu tahun saja. Keinginan sang kepala sekolah ini memang tidak berlebihan. Sebab kehadiran peserta SM3T seakan memberi warna baru bagi daerah mereka. Ada yang sukses mengajarkan cara mengubah sayur bayam menjadi keripik dan ada pula yang sukses membuat album lagu yang dinyanyikan oleh siswa. Setidaknya kehadiran peserta bisa membuka cakrawala pandang generasi muda di Manggarai. ”Bisa dibilang peserta SM3T ini adalah kepanjangan tangan Dikti, selain mengajar mereka juga diharapkan bisa mengidentifikasi apa yang dibutuhkan sekolah tempat mereka mengabdi,” ungkap Koordinator SM3T UM, Dr Eddy Sutadji M.Pd.
SM3T sudah berjalan enam bulan, dan masih tersisa beberapa bulan lagi bagi peserta SM3T untuk mengabdi di daerah. Semoga saja perjuangan peserta SM3T dan niat baik pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah terpencil bisa membangkitkan semangat generasi muda di daerah untuk terus maju. Seperti semangat program SM3T, Maju Bersama mencerdaskan Indonesia. (lailatul rosida//habis)

Sumber:

 
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org