Sepotong Kisah Guru SM3T di Ende - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Sepotong Kisah Guru SM3T di Ende

Sepotong Kisah Guru SM3T di Ende

Written By Irfan Dani on Thursday, September 27, 2012 | 10:07 AM

 
 Foto : Kondisi SD Inpres Tiwerea, Ende/UNY
 
JAKARTA - Di kota-kota besar, para siswa dapat belajar dengan nyaman dengan suasana kelas dan lingkungan sekolah yang sangat mendukung. Namun, pemandangan serupa tidak dapat dirasakan oleh para pelajar di kota kecil dan terpencil. Jangankan mengharapkan fasilitas lengkap, mampu bersekolah saja sudah merupakan sebuah kepuasan bagi mereka.

SD Inpres Tiwerea misalnya. Sekolah yang berlokasi di Desa Jembu Rea, Nanggapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini memiliki kondisi yang sangat memprihatinkan. Sekolah yang berdiri pada 15 Juli 1987 atas prakarsa swadaya masyarakat setempat itu hanya terdiri dari atas empat bangunan utama. Sementara dua kelas permanen dan lainnya merupakan kelas yang terbuat dari dinding bambu.

Seorang alumni PGSD Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Slamet Suparyoto mendapat kesempatan untuk mengajar di sekolah tersebut melalui program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terpencil, dan Tertinggal (SM3T). Slamet menuturkan, jarak tempuh menuju SD Inpres Tiwerea dari pusat kecamatan sekira dua jam dan medan yang cukup berbahaya, yakni berupa lembah curam dan menyeberangi 11 sungai berjarak 7 km.

Namun, lanjutnya, kondisi sekolah serta perjalanan yang penuh perjuangan tidak melunturkan semangat para siswa untuk menuntut ilmu. "Susahnya akses informasi dan jauhnya perhatian pemerintah setempat menjadikan transfer pendidikan di Tiwerea jauh lebih lambat dibandingkan dengan sekolah lain yang berada di daerah perkotaan," ujar Slamet, seperti dikutip dari situs UNY, Rabu (26/9/2012).

Dengan beberapa pertimbangan itu, kata Slamet, SD Inpres Tiwerea dijadikan salah satu sekolah penempatan program SM3T. “Bila murid kita berasal dari daerah terpencil, tugas pendidik menjadi semakin penting,” ungkapnya.

Menurut Slamet, kepedulian seorang guru sangat dibutuhkan bagi para siswa. “Siswa tidak peduli seberapa pintarnya seorang guru, yang mereka pedulikan adalah apakah guru tersebut juga peduli terhadap dirinya dan bisa menjadi bagian dari mereka. Belajar, mengajar, bermain, bersahabat dengan alam, didengarkan, juga belajar mendengarkan karena mereka butuh seseorang yang mau mendengarkan suara mereka,” tutur Slamet.

Keterbatasan sarana dan prasarana di SD Inpres Tiwerea mengakibatkan sejumlah siswa tidak mendapat tempat duduk. Untuk kelas rendah, seperti kelas I dan 2, mereka harus rela belajar di lantai tanpa alas. Sekolah ini pun tidak memiliki perpustakaan dan buku-buku penunjang pembelajaran pun masih sangat minim.

Selain itu, sekolah ini juga kekurangnya jumlah pengajar dan ruang belajar. ”Kami terpaksa mencampur siswa untuk belajar dalam satu ruangan karena memang jumlah kelas di sekolah ini terbatas. Misalnya kelas 4 dan kelas 5 harus belajar di ruang yang sama dengan sekat pembatas lemari atau bangku panjang,” kata Kepala Sekolah SD Inpres Tiwerea Petronela Naru.

Selain belajar, rutinitas lain para murid SD Inpres Tiwerea adalah menyiram tanaman, menyapu lantai, mengisi bak mandi, merawat kebun, dan menyapu halaman sekolah. Hal ini dimaksudkan para guru untuk mengajarkan para siswa disiplin, bertanggung jawab pada tugasnya, juga belajar mencintai alam.

Mengingat jarak tempuh siswa menuju sekolah cukup jauh, sekolah menetapkan jam masuk pukul 07.30. Begitu bel terdengar, semua siswa menuju halaman sekolah untuk melaksanakan upacara bendera atau apel pagi. Seusai apel, barulah semua siswa masuk ke ruang kelas masing-masing. Jika guru tidak ada, mereka tetap belajar sendiri tanpa bimbingan guru.(mrg)
 
Sumber: 
okezone.com 
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org