Pak Guru (SM-3T) Dihadang Laut yang Ganas - PPG SM-3T UNP
News Update:
Home » » Pak Guru (SM-3T) Dihadang Laut yang Ganas

Pak Guru (SM-3T) Dihadang Laut yang Ganas

Written By Irfan Dani on Thursday, May 3, 2012 | 9:27 AM

Kisah Pendidik di Daerah 3T

BULOH SEUMA – Dari pagi laut mengganas. Ombaknya begitu tinggi. Tak ada kapal atau boat pengangkut barang yang berani melaut. Begitu juga kapal-kapal nelayan pencari ikan.
Andreas Kasman dan tiga rekannya, Alil Tri Wahyu Sakti, Bambang Eri Irawan, dan Evil Aqwinaldo hanya bisa termangu memandang tingginya gelombang laut dari bibir pantai tak jauh dari kediaman mereka di Buloh Seuma, sebuah daerah pesisir di Aceh Selatan.
Terbayang hari-hari ke depan mereka terpaksa memakan mie instan lagi, karena persediaan beras sudah menipis bahkan nyaris habis. Mereka tak bisa ke Trumon, tempat warga membeli semua kebutuhan hariannya.
Sejak mengabdi sebagai guru bantu dalam program Sarjana Mendidik (SM) di daerah 3T
(terdepan, terluar dan tertinggal) Desember tahun lalu, tak mengkonsumsi nasi sebagai bahan makanan utama sudah menjadi hal lazim bagi keempat pemuda itu. Bila beras habis, maka mie instan atau ubi pemberian warga menjadi makanan utama pengganjal perut.
“Daripada menahan lapar, kami terpaksa seperti warga lainnya, makan mie atau ubi,” kata Andre, sapaan akrab Andreas kepada Singgalang yang ikut dalam rombongan Monitoring dan Evaluasi Panitia Pelaksana SM3T dari Universitas Negeri Padang (UNP).
Satu-satunya akses masyarakat dari dan ke Buloh Seuma hanya lewat laut dengan boat berkapasitas 15 orang atau mampu mengangkut barang sampai 80 Kg. Namun cuaca yang tak menentu menyebabkan kapal atau boat kayu tersebut tak bisa selalu berlayar. “Kadang satu kali dalam satu minggu, kadang sampai dua minggu hanya sekali saja, karena sangat bergantung kepada cuaca,” ceritanya.
Menurut Andre, sebenarnya Buloh Seuma bisa ditempuh lewat darat. Hanya saja, belum ada jalan. Kalaupun ada, hanya berupa jalan setapak yang di kiri kanannya ditumbuhi hutan leuser.
Tapi tak semuanya dapat ditempuh dengan baik, karena ada 6 muara sungai atau masyarakat menyebutnya kuala yang menjadi rintangan lain.
“Kalau air tidak pasang, kuala bisa kita tempuh dengan sepeda motor. Tapi bila pasang, terpaksa motor dipanggul, kalau tidak motor rusak, seperti motor saya,” bebernya.
Kisah sulitnya akses baru secuil dari sekian banyak yang dihadapi Andre dan tiga kawannya yang mengajar di SMP Negeri 2 Trumon tersebut.
Masih banyak hal lain yang menjadi rintangan suksesnya pengajaran dan pengabdian masyarakat yang mereka lakukan di sana. Namun secara perlahan semuanya bisa mereka atasi, termasuk sikap kurang bersahabat beberapa masyarakat terhadap berbagai perubahan yang mereka lakukan.
Di awal kehadiran mereka, cukup banyak yang menentang berbagai upaya yang dilakukan keempat pemuda tangguh itu. Bahkan, saking tak sukanya ada warga yang mengusir mereka. Tapi, tidak semuanya bersikap buruk.
Buktinya, banyak warga yang memberi mereka dari hasil kebun atau tangkapan mereka di laut. “Kami sering mendapatkan ikan hasil tangkapan nelayan di sana, karena memang ikan-ikan tak pernah mereka jual ke luar daerah akibat sulitnya transportasi dan tingginya biaya perjalanan,” paparnya.
Pola hidup masyarakat yang jauh dari kebersihan juga menjadi problematika tersendiri. “WC terbang” menjadi istilah bagi tempat pembuangan akhir tubuh manusia-manusia yang hidup di daerah yang memiliki 250 KK atau 800 jiwa yang tersebar di tiga desa, Desa Raket, Desa Gampoeng Tengoh, dan Kuta Padang.
“Kami juga turut berperan dalam memberikan pola hidup sehat kepada warga setempat, salah satunya dengan mendatangkan ahli kesehatan dari Trumon, tapi memang sulit mengubah pola hidup yang sudah mereka jalani sejak dulu,” bebernya.
Bukti lain belum tertanamnya sikap hidup bersih di masyarakat adalah anak-anak terbiasa tak mandi ke sekolah. Pakaian lusuh dan banyak, di antaranya tak menggunakan alas kaki berupa sepatu. Semua itu juga akibat jauhnya sekolah dari pemukiman mereka. Anak-anak terpaksa berjalan kaki 2,5 km dari kediaman mereka ke sekolah, melintasi hutan leuser yang memang banyak tumbuh di sana. “Kami terus berupaya agar anak-anak bisa mencintai kebersihan yang dimulai dari diri mereka,” paparnya.
Meski sulit, upaya itu terus dilakukan. Mereka berharap selepas program SM3T ini, warga bisa berubah menjadi makin baik dan pendidikan anak-anak juga semakin baik. Kini, sedikit demi sedikit sudah ada perubahan, termasuk semakin tingginya semangat belajar anak-anak.
Koordinator tim monitoring dan evaluasi, Dr. Ngusman Abdul Manaf kepada para guru SM3T menekankan, bagaimana tantangan dijadikan prestasi, sehingga pendidikan anak-anak di daerah 3T dapat sejajar dengan anak-anak di daerah yang maju.
“Disanalah dituntut peran besar seorang pendidik seperti peserta SM3T,” katanya.
UNP merupakan panitia SM3T untuk tiga daerah, Ende, Aceh Selatan dan Aceh Singkil. Ada 250 sarjana yang menjadi tanggungjawab panitia SM3T UNP.
Sejak 28 April lalu, dilakukan monitoring ke daerah-daerah tersebut untuk melihat kemajuan sekaligus kendala yang dihadapi para guru bantu tersebut. Rencananya tahun ini pemerintah melalui Dirjen Dikti akan kembali melaksanakan penerimaan program SM3T ini. “Bedanya tahun ini, tidak diterima di universitas pelaksana, melainkan langsung melalui online, kemudian panitia pusat yang menentu
Penulis: Yuni
Share this article :

1 comment:

  1. Sesuai dengan tujuan program ini, Kami memang ditantang untuk menjadi Guru yang tangguh, peduli, dan kreatif dalam mensiasati berbagai keterbatasan...

    ReplyDelete


New Creation Live Radio
by. Infokom PPG SM-3T UNP



Radio Streaming PPG SM-3T UNP




 
Redaksi : Tentang Kami | Iklan | Ketentuan | Address: Kampus II UNP, Lubuk Buaya, Padang | 25173 | Sumatera Barat | Phone: 085263220740 | Email: mail@sm3t-unp.org